Rabu, 08 Agustus 2012

hubunga antara motivasi berprestasi dengan prokrastinasi akademik


HUBUNGAN ANTARA MOTIVASI BERPRESTASI DENGAN PROKRASTINASI AKADEMIK PADA MAHASISWA
UNIVERSITAS HANG TUAH SURABAYA YANG AKTIF
DI UNIT KEGIATAN MAHASISWA (UKM)

Nur Fauzi
Universitas Hang Tuah Surabaya

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara motivasi berprestasi dengan prokrastinasi akademik pada mahasiswa Universitas Hang Tuah Surabaya yang aktif UKM. Hipotetis yang diajukan dalam penelitian ini adalah ada hubungan negatif yang artinya semakin tinggi motivasi berprestasi, maka semakin rendah prokrastinasi akademik. Sebaliknya, semakin rendah motivasi berprestasi, maka semakin tinggi prokrastinasi akademik. Prokrastinasi akademik digunakan untuk menunjukan suatu kecenderungan menunda-nunda pengerjaan dan penyelesaian suatu tugas atau pekerjaan yang berhubungan dengan aktivitas akademis. Sedangkan motivasi berprestasi adalah suatu keadaan atau kondisi yang mendorong individu untuk melakukan aktivitas tertentu guna mencapai tujuan keberhasilan dalam bersaing dengan suatu ukuran keunggulan atau standar prestasi tertentu. Penelitian ini dilakukan pada mahasiswa Universitas Hang Tuah Surabaya yang aktif UKM. Batasan aktif UKM didasarkan pada mahasiswa yang terdaftar sebagai pengurus UKM dan mahasiswa yang aktif dalam setiap kegiatan yang diadakan UKM. Berdasarkan hasil survei, maka populasi dalam penelitian ini berjumlah 360 mahasiswa dan sampel sebanyak 177 mahasiswa dengan menggunakan teknik Simple Random Sampling dalam menentukan sampel penelitian. Adapun alat pengumpul data dalam penelitian ini menggunakan dua skala penelitian psikologi yang terdiri dari 36 aitem skala motivasi berprestasi dan 32 aitem dari skala prokrastinasi akademik. Analisa dalam penelitian ini menggunakan teknik korelasi product moment dengan bantuan progam SPSS 17 for windows yang menunjukan skor koefisien korelasi rxy = - 0,053 < 0,159 dengan p (0,483 > 0,05) yang artinya tidak signifikan. Hasil analisis menunjukan bahwa motivasi berprestasi tidak mempunyai hubungan dengan prokrastinasi akademik, dengan kata lain hipotesa yang diajukan ditolak. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa mahasiswa Universitas Hang Tuah Surabaya yang aktif UKM memiliki motivasi berprestasi tinggi dan prokrastinasi akademik rendah.

Kata kunci : prokrastinasi akademik, motivasi berprestasi, mahasiswa aktif UKM



Kewajiban yang dilakukan oleh mahasiswa untuk menyelesaikan studi S1 adalah mengerjakan semua tugas-tugas akademik yang diberikan oleh setiap dosen. Namun, untuk memenuhi kewajiban tersebut sering kali mahasiswa tidak segera mengerjakan sehingga melakukan penundaan dalam mengerjakan tugas-tugas akademik. Dalam kajian psikologi, perilaku penundaan pada tugas-tugas akademik disebut dengan prokrastinasi akademik. Ferrari. dkk (dalam Ghufron, 2010) berpendapat bahwa prokrastinasi akademik adalah penundaan untuk menyelesaikan tugas akademik sesuai dengan batas waktu yang ditentukan.
Fenomena prokrastinasi akademik bersifat global, berdasarkan pada hasil penelitian Knaus (dalam Ahmaini, 2010) yang menunjukan bahwa 70% mahasiswa Amerika melakukan prokrastinasi akademik. Artinya, fenomena prokrastinasi akademik dapat terjadi di tempat lain seperti yang terjadi di Universitas Hang Tuah Surabaya. Secara khusus, menurut Ahmaini (2010) mahasiswa yang berpotensi untuk melakukan prokrastinasi akademik adalah mahasiswa yang aktif dalam kegiatan UKM. Hal tersebut ditunjukan pada hasil penelitian Ahmaini (2010) yang menyimpulkan bahwa fokus mahasiswa yang aktif dalam UKM menjadi terbagi antara aktivitas perkuliahan dan aktivitas UKM, sehingga banyak tugas-tugas akademik menjadi tertunda, terbengkalai dan mengakibatkan mahasiswa terlambat, bahkan gagal dalam menyelesaikan studi.
Berdasarkan pra-survei dari 81 responden yang aktif di UKM, ada 73 atau 90,12% yang melakukan prokrastinasi akademik. Menurut Biordy (dalam Ghufron, 2010) bahwa faktor internal yang mempengaruhi prokrastinasi akademik adalah motivasi. Sedangkan motivasi yang berperan dalam mendorong individu untuk menyelesaikan tugas adalah motivasi berprestasi (Uno, 2007). McClelland (dalam Djaali, 2009), mengungkapkan bahwa motivasi berprestasi merupakan motivasi yang berhubungan dengan pencapaian beberapa standar kepandaian atau standar keunggulan. Standar-standar itu akan mempengaruhi individu dalam usaha memperoleh pencapaian keberhasilan, termasuk dalam bidang pendidikan. Kondisi tersebut akan menentukan individu dalam menyelesaikan setiap tugas akademik, sehingga individu akan cenderung untuk melakukan atau bahkan menghindari prokrastinasi akademik.
Berdasarkan uraian di atas, prokrastinasi akademik pada mahasiswa UHT yang aktif di UKM diduga memiliki hubungan dengan motivasi berprestasi. Maka dari itu, akan diuji hubungan tersebut melalui penelitian ilmiah. Mengacu pada hal tersebut, maka fenomena yang akan diteliti adalah hubungan antara motivasi berprestasi dengan prokrastinasi akademik pada mahasiswa UHT yang aktif di UKM.

Prokrastinasi Akademik
Prokrastinasi akademik terdiri dari dua kata, yaitu prokrastinasi dan akademik. Istilah prokrastinasi berasal dari bahasa latin procrastination dengan awalan “pro” yang berarti mendorong maju atau bergerak maju dan akhiran “crastinus” yang berarti keputusan hari esok. Apabila kedua kata tersebut digabungkan, maka akan menjadi “menangguhkan” atau “menunda” sampai hari berikutnya. Istilah prokrastinasi pertama kali digunakan oleh Brown dan Holzman (dalam Ghufron,2010) untuk menunjukan suatu kecenderungan menunda-nunda penyelesaian tugas atau pekerjaan.
Selanjutnya, akademik berasal dari bahasa Yunani yaitu akademeia yang berarti suatu institusi pendidikan tinggi, penelitian, atau keanggotaan kehormatan. Nama ini diambil dari nama pahlawan yunani akademos yang kemudian dijadikan sebagai nama sekolah oleh filsafat Plato pada sekitar tahun 385 SM. Sekolah tersebut berdiri di sebuah tempat suci Athena Dewi Kebijaksanaan dan Kemampuan, sebelah utara Athena, Yunani (www.wikipedia_akademik.com). Nama akademeia kemudian disaring dalam Bahasa Belanda menjadi akademie yang telah dibakukan menjadi Bahasa Indonesia yaitu Akademik. Kamus besar Bahasa Indonesia menyatakan bahwa akademik berarti lembaga pendidikan tinggi yang mendidik seseorang kurang lebih tiga tahun untuk menjadi tenaga profesional. Sebagai adjetiva (kata sifat), akademik berkaitan dengan pendidikan, khususnya pembelajaran disekolah dan perguruan tinggi yang berhubungan dengan lebih banyak teori daripada kecakapan teknis (Mada, 2010).
Berdasarkan asal kata dari kedua kata tersebut, maka dapat diambil kesimpulan bahwa prokrastinasi akademik adalah kecenderungan individu untuk menunda-nunda suatu tugas yang berkaitan dengan tugas-tugas pendidikan, khususnya pendidikan dalam pembelajaran disekolah dan perguruan tinggi yang berhubungan dengan lebih banyak teori daripada kecakapan teknis.
Menurut Ghufron (2010), prokrastinasi akademik digunakan untuk menunjukan suatu kecenderungan menunda-nunda pengerjaan dan penyelesaian suatu tugas atau pekerjaan yang berhubungan dengan aktivitas akademis seperti misalnya tugas perkuliahan menulis, mengarang, belajar menghadapi ujian dan lain sebagainya. Suatu penundaan tersebut dilakukan oleh individu secara berulang-ulang dengan sengaja dan menimbulkan perasaan tidak nyaman misalnya perasaan cemas, merasa bersalah, panik dan lain sebagainya.
Individu yang melakukan prokrastinasi akademik mempunyai kesulitan untuk melakukan sesuatu sesuai batas waktu yang telah ditentukan, sering mengalami keterlambatan, mempersiapkan sesuatu dengan sangat berlebihan dan gagal dalam menyelesaikan tugas akademik sesuai dengan batas waktu yang telah ditentukan. Setiap penundaan dalam menghadapi suatu tugas akademik disebut dengan prokrastinasi akademik tanpa memperdulikan alasan dari penundaan tersebut. (Ferrari dkk. dalam Ghufron, 2010).
Menurut Ghufron (2010), prokrastinasi akademik melibatkan berbagai unsur masalah yang komplek dan saling terkait satu dengan lainnya. Prokrastinasi akademik bisa dikatakan sebagai hanya suatu penundaan atau kecenderungan menunda-nunda memulai suatu kerja akademik. Namun prokrastinasi akademik juga bisa dikatakan penghindaran atau pengalian tugas akademik yang diakibatkan perasaan yang tidak senang terhadap tugas dan ketakutan untuk gagal dalam mengerjakan tugas-tugas akademik. Prokrastinasi juga bisa sebagai suatu trait atau kebiasaan seseorang terhadap respon dalam mengerjakan tugas. Kondisi tersebut akan menentukan pengerjaan dan penyelesaian setiap tugas-tugas akademik, sehingga individu kurang mampu atau bahkan tidak bisa mengerjakan tugas akademik sesuai dengan waktu yang telah ditentukan.

Jenis-Jenis Tugas Prokrastinasi Akademik
Prokrastinasi dapat dilakukan pada beberapa jenis pekerjaan. Peterson (dalam Ghufron, 2010) mengatakan bahwa seseorang dapat melakukan prokrastinasi hanya pada hal-hal tertentu saja atau pada semua hal. Prokrastinasi akademik dan non-akademik sering menjadi istilah yang digunakan oleh para ahli untuk membagi jenis-jenis tugas, baik tugas pada hal-hal tertentu saja maupun pada semua hal. Prokrastinasi non-akademik adalah penundaan yang dilakukan pada jenis tugas non-formal atau tugas yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari, misalnya tugas rumah tangga, tugas sosial, tugas kantor dan lain sebagainya. Sedangkan prokrastinasi akademik adalah jenis penundaan yang dilakukan pada jenis tugas formal yang berhubungan dengan tugas akademik, misalnya tugas perkuliahan.
Terkait dengan prokrastinasi akademik, Green (dalam Ghufron, 2010) mengungkapkan jenis tugas yang menjadi obyek prokrastinasi akademik adalah tugas yang berhubungan dengan kinerja akademik. Perilaku-perilaku yang mencirikan penundaan dalam tugas akademik dipilah dari perilaku lainnya dan dikelompokkan menjadi unsur prokrastinasi akademik. Penundaan dalam kinerja akademik secara keseluruhan yaitu menunda mengerjakan atau menyelesaikan tugas-tugas akademik secara keseluruhan.
Adapun area akademik untuk melihat jenis-jenis tugas yang sering diprokrastinasi oleh pelajar adalah tugas mengarang meliputi penundaan melaksanakan tugas menulis ataupun mengarang, belajar menghadapi ujian mencakup penundaan belajar untuk menghadapi ujian, membaca meliputi adanya penundaan untuk membaca terkait dengan tugas akademik, dan menunda mengerjakan atau menyelesaikan tugas-tugas akademik secara keseluruhan. (Solomon dan Rothblum dalam Ghufron, 2010).

Karakteristik Prokrastinasi Akademik
Menurut Ferrari dkk. (dalam Ghufron, 2010) menyatakan bahwa prokrastinasi akademik mempunyai empat indikator tertentu yang dapat diukur dan diamati ciri-cirinya, ciri-ciri tersebut dapat digunakan untuk mengetahui gejala prokrastinasi akademik pada individu. Berikut ciri-ciri prokrastinasi akademik :
1.    Penundaan untuk memulai dan menyelesaikan tugas akademik.
Individu yang melakukan prokrastinasi tahu bahwa tugas yang dihadapi harus segera diselesaikan. Akan tetapi ia menunda-nunda untuk memulai mengerjakan atau menunda-nunda untuk menyelesaikan sampai tuntas jika sudah mulai mengerjakan sebelumnya.
2.    Keterlambatan dalam mengerjakan tugas-tugas akademik.
Seorang prokratinator menghabiskan waktu yang dimilikinya untuk mempersiapkan diri secara berlebihan, maupun melakukan hal-hal yang tidak dibutuhkan dalam penyelesaian suatu tugas, tanpa memperhitungkan keterbatasan waktu yang dimilikinya. Orang yang melakukan prokrastinasi memerlukan waktu yang lebih lama daripada waktu pada umumnya.
3.    Mengalami kesenjangan waktu antara rencana dan kinerja aktual.
Seorang prokrastinator mempunyai kesulitan atau mengalami keterlambatan untuk melakukan sesuatu sesuai dengan batas waktu yang telah ditentukan baik oleh orang lain maupun rencana yang telah dia tentukan sendiri. Sehingga menyebabkan keterlambatan maupun kegagalan untuk menyelesaikan tugas secara memadai.
4.    Melakukan aktivitas yang lebih menyenangkan
Seorang prokrastinator dengan sengaja tidak segera melakukan tugasnya, akan tetapi menggunakan waktu yang dia miliki untuk melakukan aktivitas lain yang dipandang lebih menyenangkan dan mendatangkan hiburan sehingga menyita waktu yang dia miliki untuk mengerjakan tugas yang harus diselesaikannya.
Berdasarkan uraian di atas, maka dalam penelitian ini akan menggunakan karakteristik prokrastinasi akademik menurut pendapat Ferrari dkk. (dalam Ghufron, 2010) yaitu; (1) Penundaan untuk memulai dan menyelesaikan tugas akademik, (2) Keterlambatan dalam mengerjakan tugas-tugas akademik, (3) Mengalami kesenjangan waktu antara rencana dan kinerja aktual, (4) Melakukan aktivitas yang lebih menyenangkan.

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Prokrastinasi Akademik
Solomon dan Rothblum (dalam Simon, 1999) mengemukakan faktor-faktor yang menyebabkan prokrastinasi adalah takut gagal, tidak menyukai tugas, sebagai sikap pemberontakan, kesukaran mengambil keputusan, ketergantungan yang kuat pada orang lain, dan pengambilan resiko yang berlebihan. Pada saat individu ingin memulai atau menyelesaikan pengerjaan tugas, kognisi yang muncul saat itu adalah kognisi yag menghambat pengerjaan tugas.
Selanjutnya, Ghufron (2010), mengkategorikan faktor-faktor yang mempengaruhi prokrastinasi akademik yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Kedua faktor tersebut berkesinambungan membentuk perilaku menunda pada individu.
1.    Faktor Internal
Faktor internal yaitu faktor-faktor yang terdapat dalam diri individu yang mempengaruhi prokrastinasi. Faktor-faktor tersebut meliputi : (1) Kondisi fisik individu dan kondisi kesehatan individu turut mempengaruhi munculnya perilaku prokrastinasi misalnya fatigue. (2) Kondisi psikologis individu. Trait kepribadian individu yang turut mempengaruhi munculnya perilaku penundaan. Besarnya motivasi yang dimiliki seseorang juga akan mempengaruhi prokrastinasi secara negatif, dimana semakin tinggi motivasi intrinsik yang dimiliki individu ketika menghadapi tugas, akan semakin rendah kecenderungannya untuk prokrastinasi akademik.
2.    Faktor Eksternal
Faktor eksternal, yaitu faktor-faktor yang terdapat di luar diri individu yang mempengaruhi prokrastinasi. Faktor-faktor tersebut meliputi ; (1) Gaya pengasuhan orangtua, (2) Lingkungan tempat tinggal, dan (3) kondisi lingkungan sekolah. (Ghufron,2010).
Terkait dengan faktor internal, menurut Uno (2007) faktor yang paling berperan dalam usaha menyelesaikan tugas tanpa menunda-nunda pekerjaannya adalah motivasi berprestasi.

Motivasi Berprestasi
Motivasi berprestasi terdiri dari dua kata yaitu motivasi dan berprestasi. Motivasi berasal dari Bahasa Latin yaitu motivum yang berarti menunjuk pada alasan tertentu mengapa sesuatu itu bergerak. Kata motivum kemudian diserap dalam Bahasa Inggris menjadi motivation yang berarti dorongan. Selanjutnya, kamus besar Bahasa Indonesia mengartikan istilah motivasi adalah dorongan yang timbul pada diri seseorang sadar atau tidak sadar untuk melakukan sesuatu tindakan dengan tujuan tertentu. Djaali (2009), menyimpulkan motivasi sebagai kondisi fisiologis dan psikologis yang terdapat dalam diri seseorang yang mendorongnya untuk melakukan aktivitas tertentu guna mencapai suatu tujuan (kebutuhan).
Sehubungan dengan kebutuhan manusia, McClelland, 1976 (dalam Djaali, 2009) mengemukakan diantara kebutuhan hidup manusia terdapat tiga macam kebutuhan yaitu kebutuhan untuk mencari makanan, kebutuhan untuk berafiliasi, dan kebutuhan untuk berprestasi. Atkinson seperti dikutip Houston, 1985 (dalam Djaali, 2009) menekankan kebutuhan untuk berprestasi merupakan usaha seseorang untuk melampaui standar keunggulan, dimana terdapat dorongan untuk mengatasi hambatan, melatih kekuatan, dan berusaha untuk melakukan suatu pekerjaan dengan baik dan secepat mungkin.
Selanjutnya, prestasi dalam kamus umum Bahasa Indonesia diartikan sebagai hasil karya yang telah dicapai. Menurut para ahli bahasa (dalam http://www.wikipedia.com/arti-prestasi.htm diunduh tanggal 27 Oktober 2011), arti prestasi adalah sesuatu yang diperoleh atau didapatkan oleh seseorang maupun kelompok yang punya nilai positif dan bisa membuat bangga serta bahagia. Nilai positif disini bukan saja dilihat dari sisi kebendaan saja. Misalnya karena seseorang bisa membuat prestasi, kemudian bisa mendorong atau memotivasi orang lain untuk membuat karya yang lebih bagus lagi.
Berdasarkan penjelasan di atas, maka dapat diambil kesimpulan bahwa motivasi berprestasi adalah suatu kebutuhan atau dorongan yang timbul pada kondisi fisiologis dan psikologis seseorang baik sadar maupun tidak sadar dalam melakukan sesuatu tindakan atau aktivitas tertentu guna mencapai hasil karya positif yang bisa membuat bangga serta bahagia atas pencapaian tersebut.
Mengacu pada uraian diatas, maka motivasi berprestasi merupakan suatu kebutuhan dasar manusia untuk berprestasi yang mendorong untuk melakukan aktivitas tertentu guna mencapai  standar prestasi setinggi mungkin atau seperti yang diinginkan.

Karakteristik Individu Yang Memiliki Motivasi Berprestasi Tinggi
Djaali (2009), menyimpulkan individu yang memiliki motivasi berprestasi tinggi mempunyai karakteristik sebagai berikut :
1.    Menyukai situasi atau tugas yang menuntut tanggung jawab pribadi atas hasilnya dan bukan atas dasar untung-untungan, nasib, atau kebetulan.
2.    Memilih tujuan yang realistis tetapi menantang dari tujuan yang terlalu mudah dicapai atau terlalu besar resikonya.
3.    Mencari situasi atau pekerjaan dimana ia memperoleh umpan balik dengan segera dan nyata untuk menentukan baik atau tidaknya hasil pekerjaannya.
4.    Senang bekerja sendiri dan bersaing untuk mengungguli orang lain.
5.    Menangguhkan pemuasan keinginan demi masa depan yang lebih baik.
6.    Tidak tergugah untuk sekedar mendapatkan keuntungan, ia akan mencari bila hal tersebut merupakan lambang keberhasilan.

Mahasiswa yang Aktif di UKM
Berdasarkan AD-ART UKM dayung Seguni UHT Surabaya, bab V pasal 11 tentang keanggotaan yang menyatakan bahwa “Keanggotaan UKM dayung Seguni UHT terdiri dari mahasiswa UHT yang telah mengikuti prosedur penerimaan keanggotaan yang telah ditetapkan dan telah tercatat dalam kesekretariatan UKM serta berminat dan berkeinginan mendukung, mengikuti, menjalankan, dan melaporkan setiap kegiatan yang diadakan oleh UKM Dayung Seguni UHT ”.
Mengacu pada uraian diatas, maka dalam penelitian ini dapat diambil kesimpulan bahwa mahasiswa yang aktif di UKM adalah mahasiswa yang terdaftar aktif  pada kesekretariatan UKM dan/atau mendukung, mengikuti, menjalankan, dan melaporkan setiap kegiatan yang diselenggarakan oleh UKM. Pengertian tersebut dapat dibatasi pada mahasiswa yang menjadi pengurus UKM dan anggota UKM yang aktif dalam setiap kegiatan yang diadakan oleh UKM.

Hubungan antara motivasi berprestasi dengan prokrastinasi akademik pada mahasiswa yang aktif di UKM
Sentosa (dalam Ahmaini, 2010), berpendapat bahwa kehidupan kampus selalu diwarnai dengan berbagai pandangan mengenai berbagai kegiatan yang diambil dan dijalankan oleh mahasiswa. Selain kegiatan akademik, kegiatan non akademik juga menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam keseharian mahasiswa. Orientasi perkuliahan dan kegiatan organisasi kemudian menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam aktivitas perkuliahan karena mahasiswa tidak hanya fokus pada perkuliahan akademik, aktivitas UKM menjadi sebuah perhatian yang tidak kalah pentingnya.
Aktivitas UKM merupakan aktivitas mahasiswa diluar dari kegiatan akademis mahasiswa. UKM di UHT Surabaya meiliki jenis kegiatan yang beragam terdiri dari kegiatan olahraga, kesenian, dan kegiatan khusus yang terbagi menjadi 20 UKM. Mahasiswa yang memiliki orientasi pada aktifitas UKM, tentu saja akan menambah jadwal kegiatan selain memenuhi kewajiban akademik. Hal itu membuat fokus mahasiswa yang aktif di UKM menjadi terbagi sehingga berpotensi melakukan penundaan tugas-tugas akademik. Fenomena penundaan tugas dalam istilah psikologi disebut prokrastinasi. Selanjutnya, prokrastinasi yang dilakukan pada tugas-tugas akademik disebut juga dengan prokrastinasi akademik.
Ghufron (2010), mengatakan prokrastinasi sebagai salah satu perilaku yang tidak efisien dalam menggunakan waktu dan adanya kecenderungan untuk tidak segera memulai suatu pekerjaan ketika menghadapi suatu tugas. Menurut Knaus (dalam Ahmaini, 2010), prokrastinasi akademik dapat mempengaruhi keberhasilan akademik dan pribadi mahasiswa. Apabila kebiasaan menunda ini muncul terus-menerus pada mahasiswa, tentu akan memberikan dampak negatif dalam kehidupan akademik. Hal tersebut, berdampak pada lamanya studi ataupun tidak tercapainya prestasi akademik.
Menurut Ghufron (2010), prokrastinasi akademik dipengaruhi oleh beberapa faktor. Biordy (dalam Ghufron,2010) mengemukakan bahwa salah satu faktor internal yang mempengaruhi timbulnya perilaku prokrastinasi akademik adalah motivasi. Terdapat beragam jenis motivasi dalam kajian psikologi, Uno (2007) mengungkapkan motivasi yang digunakan individu dalam usaha untuk menyelesaikan tugas tanpa menunda-nunda pekerjaannya adalah motivasi berprestasi.
McMcleland (dalam Djaali, 2009), mengungkapkan bahwa motivasi berprestasi merupakan motivasi yang berhubungan dengan pencapaian beberapa standar kepandaian atau standar keunggulan. Standar-standar tersebut akan mempengaruhi perilaku individu dalam usaha memperoleh pencapaian keberhasilan. McClelland dan Atkinson, 1948 (dalam Wuryani, 2002) menambahkan bahwa seseorang yang memiliki motivasi berprestasi akan cenderung berjuang untuk mencapai sukses atau memilih suatu kegiatan yang berorientasi untuk tujuan sukses.

Pengerjaan tugas akademik dan non akademik
 
Kewajiban Mahasiswa Aktif di UKM
 
Kerangka Konseptual Penelitian









 







Gambar 1. Kerangka Konseptual Hubungan Antara Motivasi Berprestasi Dengan Prokrastinasi Akademik Pada Mahasiswa Yang Aktif Di UKM

Mengacu pada uraian diatas, dapat diambil kesimpulan bahwa individu yang memiliki motivasi berprestasi yang tinggi, maka akan berusaha untuk bisa mencapai keinginannya dengan selalu berusaha untuk bisa mengerjakan tugas dengan cepat dan sebaik-baiknya tanpa menunda-nunda tugas. Sedangkan individu yang memiliki motivasi berprestasi yang rendah akan berpotensi melakukan prokrastinasi akademik. Berdasarkan hal tersebut, maka hipotesa dalam penelitian ini adalah ada hubungan negatif antara motivasi berprestasi dengan prokrastinasi akademik pada mahasiswa yang aktif di UKM. Artinya semakin tinggi prokrastinasi akademik, maka akan semakin rendah motivasi berprestasi. Sebaliknya, semakin rendah prokrastinasi akademik maka akan semakin tinggi motivasi berprestasi yang dimiliki mahasiswa.




Metode

Jenis Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif tipe survei korelasional yaitu data penelitian diperoleh dari sekelompok sampel pada satu populasi yang diambil dengan menggunakan kuesioner untuk menguji hubungan antara dua variabel yaitu variabel X (motivasi berprestasi) dengan variabel Y (prokrastinasi akademik).

Definisi Operasional
Motivasi berprestasi secara operasional adalah suatu dorongan yang terdapat dalam diri individu untuk mengerjakan tugas dengan sebaik-baiknya dan tepat pada waktunya berdasarkan standar keunggulan yang diungkap melalui skala penelitian dalam bentuk skor total dari enam indikator yaitu; (1) Menyukai situasi atau tugas yang menuntut tanggung jawab pribadi atas hasil-hasilnya dan bukan atas dasar untung-untungan, nasib, atau kebetulan; (2) Memilih tujuan yang realistis tetapi menantang dari tujuan yang terlalu mudah dicapai atau terlalu besar resikonya; (3) Mencari situasi atau pekerjaan dimana ia memperoleh umpan balik dengan segera dan nyata untuk menentukan baik atau tidaknya hasil pekerjaannya; (4) Senang bekerja sendiri dan bersaing untuk mengungguli orang lain; (5) Mampu menangguhkan pemuasan keinginan demi masa depan yang lebih baik; (6) Tidak tergugah untuk sekedar mendapatkan uang, status, atau keuntungan lainnya, ia akan mencarinya apabila hal-hal tersebut merupakan lambang prestasi, suatu ukuran keberhasilan.
Sedangkan, prokrastinasi akademik secara operasional adalah perilaku menunda-nunda pada diri individu untuk memulai dan menyelesaikan suatu tugas akademik yang diungkap melalui skala penelitian dalam bentuk skor total dari empat indikator yaitu; (1) menyelesaikan suatu tugas tidak sesuai batas waktu yang telah ditentukan; (2) sering mengalami keterlambatan dalam menyelesaikan tugas; (3) mengalami kesenjangan waktu antara rencana dengan kinerja dalam mengerjakan tugas; (4) lebih mementingkan aktivitas yang lebih menyenangkan, daripada harus mendahulukan tugas-tugas yang berkaitan dengan tugas-tugas akademik.

Pengambilan Sampel
Populasi penelitian dalam penelitian ini adalah Mahasiswa UHT yang terdaftar dalam kesekretariatan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM). Berdasarkan data BAAK dan UKM di UHT, jumlah populasi dalam penelitian ini adalah 360 mahasiswa. Selanjutnya, Pemilihan anggota sampel menggunakan teknik Simple Random Sampling, artinya semua mahasiswa dalam populasi penelitian memliki kesempatan yang sama untuk dijadikan sebagai sampel penelitian.  Penentuan ukuran sampel dalam penelitian ini mengacu pada tabel penentuan jumlah sampel yang dikembangkan oleh Isaac dan Michael (dalam Sugiyono, 2008) dengan taraf kesalahan 5%. Berdasarkan populasi penelitian, maka sampel (n) yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah sebanyak 177 responden.

Pengumpulan Data
Pengumpulan data menggunakan skala psikologi yang dirancang dengan menggunakan skala Likert yangsudah dimodifikasi. Skala yang digunakan meliputi; (1) skala prokrastinasi akademik yang dirancang dengan mengacu pada ciri-ciri prokrastinasi akademik dari Ferrari, dkk (1990, dalam Ghufron, 2010) dan telah melalui proses uji validitas dan reliabilitas. Hasil uji menunjukan terdapat 29 aitem sahih yang memiliki koefisen reliabilitas 0,695. (2) skala motivasi berprestasi yang dirancang dengan mengacu pada karakteristik individu yang memiliki motivasi berprestasi tinggi (dalam Djaali, 2009) dan telah melalui proses uji validitas dan reliabilitas. Hasil uji menunjukan terdapat 29 aitem sahih yang memiliki koefisen reliabilitas 0,654. Uji validitas menggunakan uji korelasi Product Moment, dan uji reliabilitas menggunakan teknik alpha cronbach.

Analisis Data
Analisis data dalam penelitian ini menggunakan analisis korelasi product moment yaitu menguji hubungan antara motivasi berprestasi dengan prokrastinasi akademik. Kaidah yang digunakan adalah bila p ≤ 0,01 berarti signifikan; bila p 0,01 dan/atau p ≤ 0,05 berarti sangat signifikan; dan kemudian, bila p ≥ 0,05 berarti tidak signifikan. Analisis dilakukan dengan bantuan progam SPSS for windows versi 17.

Uji Prasyarat
Hasil uji normalitas pada skala prokrastinasi akademik diperoleh sig. kolmogorov-smirnov sebesar 0,200 (p>0,1) yang menunjukan bentuk kurva normal pada variabel prokrastinasi akademik. Sedangkan hasil uji linieritas hubungan diperoleh nilai F-Deviation from Linearity (0,901) > 0,5 yang menunjukan persamaan linieritas dari kedua variabel dan mempunyai korelasi linier.

Hasil dan Pembahasan
Penelitian ini dilakukan pada tanggal 10–11 Februari 2012 di UKM Universitas Hang Tuah, Jl. Arief Rahman Hakim no 150, Surabaya. Hasil perhitungan menunjukan nilai korelasi (rxy) sebesar - 0,053 < (rtabel) 0,159 pada taraf signifikansi (p) = 0,483 > 0,05 dengan subyek 177 responden. Artinya bahwa, motivasi berprestasi tidak memiliki hubungan dengan prokrastinasi akademik. Dengan kata lain, hipotesis alternatif (Ha) yang diajukan tidak terbukti.
Hasil penelitian ini kurang sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Ferrari dkk. (1999, dalam Ghufron, 2010), bahwa besarnya motivasi yang dimiliki  individu mempengaruhi prokrastinasi secara negatif. Artinya, semakin tinggi motivasi intrinsik yang dimiliki individu ketika menghadapi tugas, akan semakin rendah kecenderungan untuk prokrastinasi akademik. Demikian juga, hasil penelitian ini berbeda dengan pendapat yang dikemukakan oleh Uno (2007), bahwa faktor yang paling berperan dalam usaha menyelesaikan tugas tanpa menunda-nunda pekerjaannya adalah motivasi berprestasi.
Ditolaknya hipotetis mengartikan bahwa terdapat kelemahan dalam penelitian yang dilakukan. Teori prokrastinasi akademik yang mengacu pada Ferrari (1999), kurang menjelaskan indikator keperilakuan yang sebagian bersifat ambigue dalam membuat setiap aitem pada skala penelitian, misalnya indikator pertama (penundaan untuk memulai dan menyelesaikan tugas) dirasa memiliki kesamaan makna dengan indikator ketiga (kesenjangan waktu antara rencana dan kinerja aktual). Selain itu, teori dari Ferrari (1999)  dikutip secara tidak langsung dari buku aslinya. Akan tetapi teori tersebut dikutip dari tulisan Ghufron (2010). Hal ini memungkinkan mengandung kelemahan karena teori tersebut tidak langsung diacu dari tokoh aslinya, namun dikutip melalui buku yang ditulis oleh Ghufron (2010). Kutipan tersebut mungkin mengandung kelemahan karena adanya perbedaan penafsiran dari tulisan aslinya.
Selanjutnya, kemungkinan kelemahan penelitian ini dikarenakan tidak dikontrolnya variabel lain yang secara konseptual berpotensi mengganggu hubungan antara variabel yang diteliti dalam penelitian ini. Hal ini mengacu pada teori Ferrari (dalam Ghufron, 2010) bahwa terdapat dua faktor utama yang mempengaruhi prokrastinasi akademik, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Kedua faktor tersebut berkesinambungan membentuk perilaku menunda pada individu. Faktor internal yaitu faktor-faktor yang terdapat dalam diri individu yang meliputi : (1) Kondisi fisik individu dan kondisi kesehatan individu, (2) Kondisi psikologis individu seperti trait (sifat) kepribadian individu. Besarnya motivasi yang dimiliki seseorang juga akan mempengaruhi prokrastinasi secara negatif. Kemudian Faktor eksternal, yaitu faktor-faktor yang terdapat di luar diri individu yang meliputi ; (1) Gaya pengasuhan orangtua, (2) Lingkungan tempat tinggal, dan (3) kondisi lingkungan sekolah.
Penulis dalam penelitian ini hanya menguji satu variabel, yang mana variabel tersebut adalah berupa faktor internal yaitu motivasi berprestasi tanpa melakukan kontrol terhadap faktor internal lainnya dan faktor eksternal yang mungkin lebih dominan dalam membentuk hubungan dengan prokrastinasi akademik. Hal ini dapat dilihat dari nilai R2 yang menunjukan bahwa sumbangan motivasi berprestasi terhadap prokrastinasi akademik hanya sebesar 0,02%, sedangkan 99,8% berhubungan dengan variabel lain.
Kelemahan lain dalam penelitian ini juga terkait dengan karakteristik sampel penelitian, terutama berkaitan dengan angkatan mahasiswa. Berdasarkan data deskriptif, dari keseluruhan sampel yang digunakan terdapat 21 atau 11,86% mahasiswa agkatan 2008, 42 atau 23,73% angkatan 2009, 58 atau 32,77% angkatan 2010, dan 56 atau 31,64% angkatan 2011. Hasil tersebut menunjukan bahwa 64,41% adalah mahasiswa agkatan 2010-2011 yang merupakan mahasiswa semester awal dalam perkuliahan. Secara umum, mahasiswa semester awal memiliki tugas yang jauh lebih sedikit dan mudah dikerjakan, daripada mahasiswa semester akhir. Hal ini dimungkinkan turut mempengaruhi perilaku individu dalam mengerjakan tugas dengan menghindari penundaan pengerjaan tugas-tugas akademik.
Lebih lanjut, berkaitan dengan peran dan fungsi sebagai mahasiswa dalam melaksanakan kegiatan akademis dan non akademis juga dimungkinkan berpengaruh terhadap perilaku prokrastinasi akademik. Hal tersebut diartikan bahwa semakin senior mahasiswa, peran dan fungsi dalam kegiatan akademis dan non akademis semakin kompleks. Semakin tinggi tingkatan angkatan mahasiswa, semakin tinggi pula tingkat kesulitan tugas. misalnya; tugas kuliah yang dalam pengerjaannya membutuhkan kemampuan daya analisis (studi kasus). Disisi lain, mahasiswa senior juga memiliki peran dan fungsi yang lebih vital di UKM, misalnya; menjadi pengurus inti UKM. Terkait dengan sampel penelitian, mahasiswa yang menjadi sampel penelitian adalah mahasiswa semester awal yang masih belum memiliki peran dan fungsi yang lebih vital di UKM.
Hal lain yang juga terkait dengan pemilihan karakteristik sampel penelitian adalah berkaitan dengan jurusan dan fakulas dari mahasiswa yang dijadikan sebagai sampel penelitian. Berdasarkan data deskriptif, dari keseluruhan sampel yang digunakan terdapat 61 atau 34,46% mahasiswa FTIK (Fakultas Teknik dan Ilmu Kelautan), 27 atau 15,26% mahasiswa FISIP (Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik), 33 atau 18,65% mahasiswa Fpsi (Fakultas Psikologi), 29 atau 16,38% mahasiswa FH (Fakultas Hukum), 15 atau 8,47% mahasiswa FKU (Fakultas Kedokteran Umum), dan 12 atau 6,78% mahasiswa FKG (Fakultas Kedokteran Gigi). Hasil tersebut menunjukan bahwa 50,29% adalah mahasiswa dari jurusan ilmu sosial yaitu, FISIP, Fpsi, dan FH yang dimungkinkan memiliki kontrol lebih untuk menghindari prokrastinasi akademik. Hal ini dimungkinkan karena tugas-tugas akademis pada ilmu sosial memiliki tingkat kesulitan di bawah ilmu sains, misalnya tugas rancang pada Ilmu Teknik memiliki tingkat kesulitan yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan tugas mengarang pada ilmu sosial.
Selanjutnya, meski memiliki kesamaan karakteristik yaitu aktif di UKM, namun sampel penelitian berasal dari beragam fakultas dan jurusan progam studi yang memiliki kewajiban akademik yang berbeda. Keragaman kewajiban akademik merupakan bagian dari bidang ilmu yang ada di setiap fakultas dan jurusan di Universitas Hang Tuah Surabaya. Hal tersebut berhubungan dengan cara mahasiswa dalam menyelesaikan kewajiban akademik sehingga turut serta mempengaruhi prokrastinasi akademik pada mahasiswa. Kurangnya kontrol terhadap kewajiban akademik pada setiap fakultas dan jurusan pada mahasiswa yang aktif di UKM dimungkinkan mempengaruhi hasil penelitian sehingga hipotesa yang diajukan tidak terbukti.
Disisi lain, keikut sertaan mahasiswa dalam kegiatan UKM dirasa turut memberikan pengaruh pada individu dalam menyelesaikan tugas-tugas akademik. Walaupun dalam penelitian Ahmaini (2010) menunjukan bahwa mahasiswa yang ikut dalam kegiatan kemahasiswaan memiliki prokraastinasi akademik tinggi, namun dalam penelitian ini tidak menunjukan bahwa mahasiswa UHT yang aktif di UKM memiliki prokrastinasi akademik tinggi. Hal ini, dikarenakan mahasiswa UHT lebih memiliki motivasi berprestasi tinggi yang kemudian dijadikan sebagai kontrol terhadap perilaku prokrastinasi akademik. Artinya, mahasiswa yang aktif di UKM semakin termotivasi mengerjakan tugas-tugas akademik dikarenakan keaktifan pada kegiatan UKM.
Hal lain yang berkaitan dengan pengambilan sampel adalah penulis tidak bertatap muka secara langsung dengan responden sehingga responden terkesan asal-asalan dalam menjawab setiap aitem dalam skala penelitian. Penulis juga kurang memberikan persuasif dalam menyampaikan maksud dan tujuan penelitian ini, sehingga responden kurang kooperatif dalam membantu pelaksanaan penelitian.
Jawaban yang diberikan responden terkesan asal-asalan yang dimungkinkan karena responden kurang memahami makna dan tujuan skala penelitian yang disuguhkan. Hal ini terlihat dari hasil jawaban subyek yang kurang variatif atau hanya berkisar pada nilai yang sama pada satu responden, misal jawaban favorabel yang setuju sehingga hanya menghasilkan nilai masing-masing 3, dan unfavorabel yang tidak setuju sehingga hanya menghasilkan nilai masing-masing 2 dalam skala. Responden dirasa kurang memberikan jawaban sesuai dengan kondisi yang dialami. Hal itu dimungkinkan turut mendukung tidak terbuktinya hipotesis yang diajukan.
Pembuatan instrument penelitian yang digunakan dalam penyusunan skala juga mempengaruhi kelemahan dalam penelitian ini. Teknik penyebaran aitem pada satu skala penelitian dirasa kurang variatif, yaitu nomer ganjil untuk favorabel dan nomer genap untuk unfavorabel. Hal itu memungkinkan subyek merasa bosan sehingga subyek dalam mengisi skala penelitian kurang begitu serius. Harusnya, penyebaran aitem pada satu skala penelitian bervariasi untuk menghindari kejenuhan subyek dalam mengisi skala penelitian. Hal tersebut dirasa mempengaruhi subyek dalam memberikan jawaban pada setiap pernyataan/aitem yang disajikan.
Hal lain yang berkaitan dengan pembuatan instrument penelitian adalah aitem-aitem yang disajikan dalam skala penelitian. Sebelumnya, telah ditemukan skala prokrastinasi yang dikembangkan oleh Tuckman dan Sexton (1990) dengan memliki ciri-ciri sebagai berikut: (1) Deskripsi diri dari kecenderungan menunda melakukan suatu tugas. Misalnya, menunggu sampai batas waktu terakhir, (2) Kecenderungan untuk mengalami kesulitan melakukan hal-hal tidak menyenangkan atau menghindari ketidaknyamanan. Misalnya, mencari celah atau jalan pintas untuk tidak mengerjakan tugas berat, dan (3) Kecenderungan untuk menyalahkan orang lain atas penderitaan sendiri. Misalnya, mencari kesalahan orang lain atas tugas yang harus dilakukan (Tuckman dan Sexton, 1990).
Akan tetapi, Skala prokrastinasi akademik dalam penelitian ini dibuat oleh penulis sendiri dengan mengacu pada indikator dari pendapat Ferrari dkk (1999, dalam Ghufron, 2010) dengan pertimbangan karena skala yang dikembangkan oleh Tuckman dan Sexton (1990) hanya mengarah pada prokrastinasi, bukan prokrastinasi akademik. Walaupun tingkat validitas yang digunakan adalah validitas isi dengan dinilai oleh penilai ahli (dosen pembimbing) dan aitem-aitem tersebut dinyatakan valid oleh perhitungan SPSS, namun hal tersebut dimungkinkan mempengaruhi tidak terbuktinya hipotetis yang diajukan karena skala prokrastinasi telah dikembangkan oleh Tuckman dan Sexton (1990) tidak dipertimbangkan dalam penelitian ini.
Selain itu, segi yang tidak boleh diabaikan dalam pengembangan skala psikologi adalah masalah penampilan fisik skala yang akan diisi responden. Tampilan skala yang menarik akan membangkitkan minat responden untuk menyikapi skala secara tepat dan cermat, sehingga akan mencerminkan keseriusan responden dalam mengisi skala (Azwar, 2007).
Meninjau tampilan fisik skala yang dibuat oleh peneliti, kemungkinan tampilannya kurang menarik sehingga responden kurang serius dalam mengisinya. Asumsi peneliti atas tampilan skala yang kurang menarik meliputi; (1) jenis kertas yang digunakan adalah kertas buram warna coklat muda sehingga terlihat kurang menarik dipandang, hal ini memungkinkan subyek penelitian merasa kurang tertarik dan kurang serius untuk mengisi skala penelitian sesuai dengan apa yang dialami. (2) terlalu banyak intruksi yang diberikan oleh peneliti, intruksi tersebut berupa intruksi awal yang berisi tata cara pengisian skala penelitian dan sebagainya. Selain intruksi awal terdapat juga intruksi yang dibubuhkan pada setiap lembar skala, misalnya keterangan SS, S, ST, STS dan ucapan terima kasih. Hal ini dipandang akan membuat responden bosan membaca tiap intruksi, sehingga subyek tidak mengisi sesuai dengan apa yang dialami. Hal tersebut dapat dimungkinkan sebagai pendukung tidak terbuktinya hipotesa yang diajukan.
Berdasarkan pembahasan diatas, maka dapat diambil pemahaman bahwa tidak terbuktinya hipotetis yang diajukan dikarenakan adanya kelemahan dalam penelitan. Kelemahan tersebut adalah sebagai berikut;
1.    Kelemahan landasan teori,
2.    Terdapat variabel lain yang mungkin lebih dominan dalam mempengaruhi variabel penelitian,
3.    Kelemahan dalam memilih karakteristik sampel,
4.    Kelemahan dalam merancang instrumen penelitian.

Walaupun dari hasil penelitian tidak menemukan adanya hubungan antara motivasi berprestasi dengan prokrastinasi akademik, namun berdasarkan hasil uji rerata variabel dapat diartikan bahwa responden memiliki motivasi berprestasi tinggi dan prokrastinasi akademik rendah. Hal tersebut dapat disimpulkan bahwa mahasiswa UHT yang aktif UKM memiliki motivasi berprestasi tinggi. Mahasiswa tersebut dapat digolongkan dalam karakteristik individu yang memiliki motivasi berprestasi dan memiliki prokrastinasi akademik yang rendah. Kondisi tersebut dapat dipertahankan untuk mencapai keberhasilan akademik sesuai dengan apa yang diinginkan.

Kesimpulan dan Saran
Berdasarkan perhitungan analisis data pada populasi penelitian dapat diambil kesimpulan bahwa tidak ada hubungan antara motivasi berprestasi dengan prokrastinasi akademik pada mahasiswa Universitas Hang Tuah Surabaya yang aktif UKM. Analisis data juga menunjukan bahwa mahasiswa Universitas Hang Tuah Surabaya yang aktif di UKM memiliki motivasi berprestasi tinggi dan prokrastinasi akademik yang rendah.
Adapun saran yang dapat diajukan adalah sebagai berikut;
1.    Mahasiswa Universitas Hang Tuah yang aktif UKM diharapkan mengutamakan skala prioritas pada kegiatan yang dipandang paling penting untuk diselesaikan terlebih dahulu, terutama kegiatan akademis.
2.    Universitas Hang Tuah disarankan tetap mempertahankan kondisi yang ada dengan cara semakin banyak memberikan penghargaan (reward) kepada mahasiswa yang berprestasi dibidang akademis dan non akademis.  Selain itu, perlu memberikan tindakan tegas jika terlambat mengerjakan tugas dan menetapkan batas maksimal studi.
3.    Bagi yang tertarik untuk menindak lanjuti penelitian ini disarankan untuk mengontrol variabel lain yang dimungkinkan lebih dominan mempengaruhi prokrastinasi akademik, seperti gaya pengasuhan, lingkungan, kondisi fisik dan psikis individu, dan kepribadian dengan mencari berbagai literatur yang terpercaya. Selain itu, perlu memperhatikan karakteristik populasi  yang akan dijadikan sebagai sampel penelitian.


Daftar Pustaka
Ahmaini, D. 2010. Perbedaan Prokrastinasi Akademik Antara Mahasiswa yang Aktif dengan Mahasiswa yang tidak Aktif dalam Unit Kegiatan Kemahasiswaan PEMA USU. Skripsi (tidak diterbitkan). Sumatera : Fakultas Psikologi Universitas Sumatera Utara. On-line (diunduh pada tanggal 30 Mei 2011 pukul 14:19).

Ashari, & Santoso, B. Purbayu. 2005. Analisis Statistik Dengan Microsoft Exel & SPSS. Yogyakarta : Penerbit Andi.

Azwar, S. 2003. Metode Penelitian edisi 1. Yogyakarta : Pustaka Pelajar

                  2007. Penyusunan Skala Psikologi. Yogyakarta : Pustaka Pelajar

Bungin, Burhan. 2005. Metodologi Penelitian Kuantitatif komunikasi, ekonomi, dan kebijakan public serta ilmu-ilmu sosial lainya. Jakarta: Kencana Prenada Media Group

Burhan Nurgiyantoro, Gunawan, Marzuki. (2004). Statistik Terapan Untuk Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial. Cet. Ketiga. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Bruce, W. Tuckman. (1990). Mengukur Penundaan Attitudinally dan Perilaku. Laporan penelitian (tidak diterbitkan). Amerika Asosiasi Riset Pendidikan. On-line (diunduh pada tanggal 30 Mei 2011 pukul 14:19).

Djaali. 2009. Psikologi Pendidikan. Jakarta : Bumi Aksara

Ghufron, 2010. Teori-Teori Psikologi. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media

Hadi, S. 2004. Seri Program Statistik, manual. Yogyakarta : Fakultas Psikologi Universitas Gajah Mada

http://www.wikipedia.com (diunduh tanggal 27 Oktober 2011 jam 11.55)

http://www.mikroskil.ac.id/mhs_ukm.php (diunduh tanggal 07 Maret 2011 jam 10.20)

KEPMENDIKNAS Nomor 232 Tahun 2000. Pedoman Penyusunan Kurikulum Pendidikan Tinggi dan Penilaian Hasil Belajar. Jakarta: Djambatan IKAPI


90
 
 
Mada, D. P. (2010, Januari-Maret). Akademi, Akademik, dan Akademis. Hang Tuah Post, 36, 21.

Mastuti, E. (2009). Memahami Perilaku Prokrastinasi Akademik Berdasar Tingkat Self Regulation Learning. Jurnal Psikologi Indonesia, 6, 55-61.

Salim, S. Evita & Sukadji, S. 2006. Sukses Belajar di Perguruan Tinggi. Yogyakarta : Percetakan Jalasutra

Singarimbun & Efendi. 2008. Metode Penelitian Survai. Jakarta : LP3S

Sugiyono. 2008. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R & D. Bandung: penerbit Alfabeta

Suryabrata, S. 2009. Metodologi Penelitian. Jakarta: Raja Grafindo Persada

UHT, Seguni. 2002. Pedoman AD-ART UKM Dayung Seguni Universitas Hang Tuah. (tidak diterbitkan. Surabaya : UKM Dayung Seguni UHT).

UHT, BAAK. 2007. Buku Pedoman Akademik dan Kemahasiswaan. Surabaya : Universitas Hang Tuah Surabaya

UHT, BAAK. 2007. Buku Wisuda XXXIII Graha Samudera Ganesha. Surabaya : Universitas Hang Tuah Surabaya

Uno, B. Hamzah. 2008. Teori Motivasi & Pengukurannya Analisis di bidang Pendidikan. Jakarta : PT. Bumi Aksara

Uyanto, S. Stanislaus. 2006. Pedoman analisis data dengan SPSS. Yogyakarta : Graha Ilmu

Widhiarso, W. 2010. Uji Linieritas Hubungan. Manuskrip (tidak diterbitkan). Yogyakarta : Fakultas Psikologi Universitas Gajah Mada.

Widoyoko, E. Putro. 2012. Teknik Penyusunan Instrumen Penelitian. Yogyakarta: Pustaka Belajar

Wuryani, E. 2002. Psikologi Pendidikan. Jakarta : PT. Gramedia Widiasarana Indonesia.