HUBUNGAN ANTARA MOTIVASI BERPRESTASI DENGAN PROKRASTINASI
AKADEMIK PADA MAHASISWA
UNIVERSITAS HANG TUAH SURABAYA YANG AKTIF
DI UNIT KEGIATAN MAHASISWA (UKM)
Nur Fauzi
Universitas Hang Tuah Surabaya
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara motivasi berprestasi dengan
prokrastinasi akademik pada mahasiswa Universitas Hang Tuah Surabaya yang aktif
UKM. Hipotetis yang diajukan dalam penelitian ini adalah ada hubungan negatif
yang artinya semakin tinggi motivasi berprestasi, maka semakin rendah
prokrastinasi akademik. Sebaliknya, semakin rendah motivasi berprestasi, maka
semakin tinggi prokrastinasi akademik. Prokrastinasi akademik digunakan untuk
menunjukan suatu kecenderungan menunda-nunda pengerjaan dan penyelesaian suatu
tugas atau pekerjaan yang berhubungan dengan aktivitas akademis. Sedangkan motivasi
berprestasi adalah suatu keadaan atau kondisi yang mendorong individu
untuk melakukan aktivitas tertentu guna mencapai tujuan keberhasilan dalam
bersaing dengan suatu ukuran keunggulan atau standar prestasi tertentu.
Penelitian ini dilakukan pada mahasiswa Universitas Hang Tuah Surabaya yang
aktif UKM. Batasan aktif UKM didasarkan pada mahasiswa yang terdaftar sebagai
pengurus UKM dan mahasiswa yang aktif dalam setiap kegiatan yang diadakan UKM.
Berdasarkan hasil survei, maka populasi dalam penelitian ini berjumlah 360
mahasiswa dan sampel sebanyak 177 mahasiswa dengan menggunakan teknik Simple Random Sampling dalam menentukan
sampel penelitian. Adapun alat pengumpul data dalam penelitian ini menggunakan
dua skala penelitian psikologi yang terdiri dari 36 aitem skala motivasi berprestasi dan 32 aitem dari skala
prokrastinasi akademik. Analisa dalam
penelitian ini menggunakan teknik korelasi product moment dengan bantuan progam
SPSS 17 for windows yang menunjukan skor
koefisien korelasi rxy = - 0,053 <
0,159 dengan p (0,483 > 0,05) yang artinya tidak signifikan. Hasil analisis
menunjukan bahwa motivasi berprestasi tidak mempunyai hubungan dengan
prokrastinasi akademik, dengan kata lain hipotesa yang diajukan ditolak. Hasil
penelitian juga menunjukkan bahwa mahasiswa Universitas Hang Tuah Surabaya yang aktif UKM
memiliki motivasi berprestasi tinggi dan prokrastinasi akademik rendah.
Kata kunci :
prokrastinasi akademik, motivasi berprestasi, mahasiswa aktif UKM
Kewajiban yang dilakukan oleh mahasiswa untuk
menyelesaikan studi S1 adalah mengerjakan semua tugas-tugas akademik yang
diberikan oleh setiap dosen. Namun, untuk memenuhi kewajiban tersebut sering
kali mahasiswa tidak segera mengerjakan sehingga melakukan penundaan dalam
mengerjakan tugas-tugas akademik. Dalam kajian psikologi, perilaku
penundaan pada tugas-tugas akademik disebut dengan prokrastinasi akademik.
Ferrari. dkk (dalam Ghufron, 2010) berpendapat bahwa prokrastinasi akademik
adalah penundaan untuk menyelesaikan tugas akademik sesuai dengan batas waktu
yang ditentukan.
Fenomena prokrastinasi akademik bersifat global,
berdasarkan pada hasil penelitian Knaus (dalam Ahmaini, 2010) yang menunjukan
bahwa 70% mahasiswa Amerika melakukan prokrastinasi akademik. Artinya, fenomena prokrastinasi akademik dapat
terjadi di tempat lain seperti yang terjadi di Universitas Hang Tuah Surabaya.
Secara khusus, menurut Ahmaini (2010) mahasiswa yang berpotensi untuk melakukan
prokrastinasi akademik adalah mahasiswa yang aktif dalam kegiatan UKM. Hal
tersebut ditunjukan pada hasil penelitian Ahmaini
(2010) yang menyimpulkan
bahwa fokus mahasiswa yang aktif dalam UKM menjadi terbagi antara aktivitas perkuliahan
dan aktivitas UKM, sehingga banyak tugas-tugas akademik menjadi tertunda, terbengkalai dan mengakibatkan mahasiswa
terlambat, bahkan
gagal dalam menyelesaikan studi.
Berdasarkan pra-survei dari 81 responden yang aktif di UKM, ada 73 atau
90,12% yang melakukan prokrastinasi akademik. Menurut Biordy (dalam Ghufron, 2010) bahwa faktor internal yang mempengaruhi prokrastinasi akademik adalah
motivasi. Sedangkan motivasi yang
berperan dalam mendorong individu untuk menyelesaikan tugas adalah motivasi
berprestasi (Uno, 2007). McClelland (dalam Djaali,
2009), mengungkapkan bahwa motivasi berprestasi merupakan motivasi yang
berhubungan dengan pencapaian beberapa standar kepandaian atau standar
keunggulan. Standar-standar itu akan mempengaruhi individu dalam usaha memperoleh pencapaian
keberhasilan, termasuk dalam bidang pendidikan. Kondisi tersebut akan
menentukan individu dalam menyelesaikan setiap tugas akademik, sehingga individu akan cenderung
untuk melakukan atau bahkan menghindari prokrastinasi akademik.
Berdasarkan uraian
di atas, prokrastinasi akademik pada mahasiswa UHT yang aktif di UKM diduga memiliki hubungan
dengan motivasi berprestasi. Maka
dari itu, akan diuji hubungan tersebut melalui penelitian ilmiah. Mengacu pada
hal tersebut, maka fenomena yang akan diteliti adalah hubungan
antara motivasi berprestasi dengan prokrastinasi akademik pada mahasiswa UHT yang aktif di UKM.
Prokrastinasi Akademik
Prokrastinasi
akademik terdiri dari dua kata, yaitu prokrastinasi dan akademik. Istilah
prokrastinasi berasal dari bahasa latin procrastination
dengan awalan “pro” yang berarti
mendorong maju atau bergerak maju dan akhiran “crastinus” yang berarti keputusan hari esok. Apabila kedua kata
tersebut digabungkan, maka akan menjadi “menangguhkan” atau “menunda” sampai
hari berikutnya. Istilah prokrastinasi pertama kali digunakan oleh Brown dan
Holzman (dalam Ghufron,2010) untuk menunjukan suatu kecenderungan menunda-nunda
penyelesaian tugas atau pekerjaan.
Selanjutnya,
akademik berasal dari bahasa Yunani
yaitu akademeia yang berarti suatu
institusi pendidikan tinggi, penelitian, atau keanggotaan kehormatan. Nama ini
diambil dari nama pahlawan yunani akademos
yang kemudian dijadikan sebagai nama sekolah oleh filsafat Plato pada sekitar tahun 385 SM. Sekolah tersebut berdiri di
sebuah tempat suci Athena Dewi Kebijaksanaan dan Kemampuan,
sebelah utara Athena, Yunani (www.wikipedia_akademik.com).
Nama akademeia kemudian disaring dalam Bahasa Belanda menjadi akademie yang telah dibakukan menjadi
Bahasa Indonesia yaitu Akademik. Kamus besar Bahasa Indonesia menyatakan bahwa
akademik berarti lembaga pendidikan tinggi yang mendidik seseorang kurang lebih
tiga tahun untuk menjadi tenaga profesional. Sebagai adjetiva (kata sifat),
akademik berkaitan dengan pendidikan, khususnya pembelajaran disekolah dan
perguruan tinggi yang berhubungan dengan lebih banyak teori daripada kecakapan
teknis (Mada, 2010).
Berdasarkan
asal kata dari kedua kata tersebut, maka dapat diambil kesimpulan bahwa
prokrastinasi akademik adalah kecenderungan individu
untuk menunda-nunda suatu tugas yang berkaitan
dengan tugas-tugas pendidikan, khususnya pendidikan dalam pembelajaran
disekolah dan perguruan tinggi yang berhubungan dengan lebih banyak teori
daripada kecakapan teknis.
Menurut Ghufron (2010), prokrastinasi
akademik digunakan untuk menunjukan suatu kecenderungan menunda-nunda
pengerjaan dan penyelesaian suatu tugas atau pekerjaan yang berhubungan dengan
aktivitas akademis seperti misalnya tugas perkuliahan menulis, mengarang, belajar
menghadapi ujian dan lain sebagainya. Suatu penundaan tersebut dilakukan oleh
individu secara berulang-ulang dengan sengaja dan menimbulkan perasaan tidak
nyaman misalnya perasaan cemas, merasa bersalah, panik dan lain sebagainya.
Individu yang melakukan prokrastinasi akademik mempunyai kesulitan untuk melakukan
sesuatu sesuai batas waktu yang telah ditentukan, sering mengalami
keterlambatan, mempersiapkan sesuatu dengan sangat berlebihan dan gagal dalam
menyelesaikan tugas akademik sesuai dengan batas waktu yang telah ditentukan.
Setiap penundaan dalam menghadapi suatu tugas akademik disebut dengan
prokrastinasi akademik tanpa memperdulikan alasan dari penundaan tersebut.
(Ferrari dkk. dalam Ghufron, 2010).
Menurut Ghufron (2010), prokrastinasi
akademik melibatkan berbagai unsur masalah yang komplek dan saling terkait satu
dengan lainnya. Prokrastinasi akademik bisa dikatakan sebagai hanya suatu
penundaan atau kecenderungan menunda-nunda memulai suatu kerja akademik. Namun
prokrastinasi akademik juga bisa dikatakan penghindaran atau pengalian tugas
akademik yang diakibatkan perasaan yang tidak senang terhadap tugas dan
ketakutan untuk gagal dalam mengerjakan tugas-tugas akademik. Prokrastinasi
juga bisa sebagai suatu trait atau
kebiasaan seseorang terhadap respon dalam mengerjakan tugas. Kondisi tersebut
akan menentukan pengerjaan dan penyelesaian setiap tugas-tugas akademik,
sehingga individu kurang mampu atau bahkan tidak bisa mengerjakan tugas
akademik sesuai dengan waktu yang telah ditentukan.
Jenis-Jenis Tugas Prokrastinasi Akademik
Prokrastinasi dapat dilakukan pada beberapa jenis
pekerjaan. Peterson (dalam Ghufron, 2010) mengatakan bahwa seseorang dapat
melakukan prokrastinasi hanya pada hal-hal tertentu saja atau pada semua hal.
Prokrastinasi akademik dan non-akademik sering menjadi istilah yang digunakan
oleh para ahli untuk membagi jenis-jenis tugas, baik tugas pada hal-hal
tertentu saja maupun pada semua hal. Prokrastinasi non-akademik adalah
penundaan yang dilakukan pada jenis tugas non-formal atau tugas yang
berhubungan dengan kehidupan sehari-hari, misalnya tugas rumah tangga, tugas
sosial, tugas kantor dan lain sebagainya. Sedangkan prokrastinasi akademik
adalah jenis penundaan yang dilakukan pada jenis tugas formal yang berhubungan
dengan tugas akademik, misalnya tugas perkuliahan.
Terkait dengan prokrastinasi akademik, Green (dalam
Ghufron, 2010) mengungkapkan jenis tugas yang menjadi obyek prokrastinasi
akademik adalah tugas yang berhubungan dengan kinerja akademik.
Perilaku-perilaku yang mencirikan penundaan dalam tugas akademik dipilah dari
perilaku lainnya dan dikelompokkan menjadi unsur prokrastinasi akademik.
Penundaan dalam kinerja akademik secara keseluruhan yaitu menunda mengerjakan
atau menyelesaikan tugas-tugas akademik secara keseluruhan.
Adapun area akademik untuk melihat jenis-jenis
tugas yang sering diprokrastinasi oleh pelajar adalah tugas mengarang meliputi
penundaan melaksanakan tugas menulis ataupun mengarang, belajar menghadapi
ujian mencakup penundaan belajar untuk menghadapi ujian, membaca meliputi
adanya penundaan untuk membaca terkait dengan tugas akademik, dan menunda
mengerjakan atau menyelesaikan tugas-tugas akademik secara keseluruhan.
(Solomon dan Rothblum dalam Ghufron, 2010).
Karakteristik Prokrastinasi Akademik
Menurut Ferrari
dkk. (dalam Ghufron, 2010) menyatakan bahwa prokrastinasi akademik mempunyai
empat indikator tertentu yang dapat diukur dan diamati ciri-cirinya, ciri-ciri
tersebut dapat digunakan untuk mengetahui gejala prokrastinasi akademik pada
individu. Berikut ciri-ciri prokrastinasi akademik :
1. Penundaan
untuk memulai dan menyelesaikan tugas akademik.
Individu
yang melakukan prokrastinasi tahu bahwa tugas yang dihadapi harus segera
diselesaikan. Akan tetapi ia menunda-nunda untuk memulai mengerjakan atau
menunda-nunda untuk menyelesaikan sampai tuntas jika sudah mulai mengerjakan
sebelumnya.
2. Keterlambatan
dalam mengerjakan tugas-tugas akademik.
Seorang
prokratinator menghabiskan waktu yang dimilikinya untuk mempersiapkan diri
secara berlebihan, maupun melakukan hal-hal yang tidak dibutuhkan dalam
penyelesaian suatu tugas, tanpa memperhitungkan keterbatasan waktu yang
dimilikinya. Orang yang melakukan prokrastinasi memerlukan waktu yang lebih
lama daripada waktu pada umumnya.
3. Mengalami
kesenjangan waktu antara rencana dan kinerja aktual.
Seorang
prokrastinator mempunyai kesulitan atau mengalami keterlambatan untuk melakukan
sesuatu sesuai dengan batas waktu yang telah ditentukan baik oleh orang lain
maupun rencana yang telah dia tentukan sendiri. Sehingga menyebabkan
keterlambatan maupun kegagalan untuk menyelesaikan tugas secara memadai.
4.
Melakukan aktivitas yang lebih menyenangkan
Seorang
prokrastinator dengan sengaja tidak segera melakukan tugasnya, akan tetapi
menggunakan waktu yang dia miliki untuk melakukan aktivitas lain yang dipandang
lebih menyenangkan dan mendatangkan hiburan sehingga menyita waktu yang dia
miliki untuk mengerjakan tugas yang harus diselesaikannya.
Berdasarkan uraian di
atas, maka dalam penelitian ini akan menggunakan karakteristik prokrastinasi
akademik menurut pendapat Ferrari dkk. (dalam Ghufron, 2010) yaitu; (1) Penundaan
untuk memulai dan menyelesaikan tugas akademik, (2) Keterlambatan dalam
mengerjakan tugas-tugas akademik, (3) Mengalami kesenjangan waktu antara
rencana dan kinerja aktual, (4) Melakukan
aktivitas yang lebih menyenangkan.
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Prokrastinasi Akademik
Solomon dan Rothblum (dalam Simon, 1999)
mengemukakan faktor-faktor yang menyebabkan prokrastinasi adalah takut gagal,
tidak menyukai tugas, sebagai sikap pemberontakan, kesukaran mengambil
keputusan, ketergantungan yang kuat pada orang lain, dan pengambilan resiko
yang berlebihan. Pada saat individu ingin memulai atau menyelesaikan pengerjaan
tugas, kognisi yang muncul saat itu adalah kognisi yag menghambat pengerjaan
tugas.
Selanjutnya, Ghufron (2010), mengkategorikan
faktor-faktor yang mempengaruhi prokrastinasi akademik yaitu faktor internal
dan faktor eksternal. Kedua faktor tersebut berkesinambungan membentuk perilaku
menunda pada individu.
1. Faktor
Internal
Faktor
internal yaitu faktor-faktor yang terdapat dalam diri individu yang
mempengaruhi prokrastinasi. Faktor-faktor tersebut meliputi : (1) Kondisi
fisik individu dan kondisi kesehatan individu turut mempengaruhi munculnya
perilaku prokrastinasi misalnya fatigue.
(2) Kondisi psikologis individu. Trait kepribadian individu yang turut
mempengaruhi munculnya perilaku penundaan. Besarnya motivasi yang dimiliki
seseorang juga akan mempengaruhi prokrastinasi secara negatif, dimana semakin
tinggi motivasi intrinsik yang dimiliki individu ketika menghadapi tugas, akan
semakin rendah kecenderungannya untuk prokrastinasi akademik.
2. Faktor
Eksternal
Faktor
eksternal, yaitu faktor-faktor yang terdapat di luar diri individu yang
mempengaruhi prokrastinasi. Faktor-faktor tersebut meliputi ; (1) Gaya
pengasuhan orangtua, (2) Lingkungan tempat tinggal, dan (3) kondisi lingkungan
sekolah. (Ghufron,2010).
Terkait
dengan faktor internal, menurut Uno (2007) faktor yang paling berperan dalam
usaha menyelesaikan tugas tanpa menunda-nunda
pekerjaannya adalah motivasi berprestasi.
Motivasi
Berprestasi
Motivasi berprestasi terdiri dari
dua kata yaitu motivasi dan berprestasi. Motivasi berasal dari Bahasa Latin
yaitu motivum yang berarti menunjuk
pada alasan tertentu mengapa sesuatu itu bergerak. Kata motivum kemudian diserap dalam Bahasa Inggris menjadi motivation yang berarti dorongan.
Selanjutnya, kamus besar Bahasa Indonesia mengartikan istilah motivasi adalah
dorongan yang timbul pada diri seseorang sadar atau tidak sadar untuk melakukan
sesuatu tindakan dengan tujuan tertentu. Djaali (2009), menyimpulkan motivasi
sebagai kondisi fisiologis dan psikologis yang terdapat dalam diri seseorang
yang mendorongnya untuk melakukan aktivitas tertentu guna mencapai suatu tujuan
(kebutuhan).
Sehubungan dengan kebutuhan manusia,
McClelland, 1976 (dalam Djaali, 2009) mengemukakan diantara kebutuhan hidup
manusia terdapat tiga macam kebutuhan yaitu kebutuhan untuk mencari makanan,
kebutuhan untuk berafiliasi, dan kebutuhan untuk berprestasi. Atkinson seperti
dikutip Houston, 1985 (dalam Djaali, 2009) menekankan kebutuhan untuk
berprestasi merupakan usaha seseorang untuk melampaui standar keunggulan,
dimana terdapat dorongan untuk mengatasi hambatan, melatih kekuatan, dan berusaha
untuk melakukan suatu pekerjaan dengan baik dan secepat mungkin.
Selanjutnya, prestasi dalam kamus
umum Bahasa Indonesia diartikan sebagai hasil karya yang telah dicapai. Menurut
para ahli bahasa (dalam http://www.wikipedia.com/arti-prestasi.htm
diunduh tanggal 27 Oktober 2011), arti prestasi adalah sesuatu yang diperoleh
atau didapatkan oleh seseorang maupun kelompok yang punya nilai positif dan
bisa membuat bangga serta bahagia. Nilai positif disini bukan saja dilihat dari
sisi kebendaan saja. Misalnya karena seseorang bisa membuat prestasi, kemudian
bisa mendorong atau memotivasi orang lain untuk membuat karya yang lebih bagus
lagi.
Berdasarkan penjelasan di atas, maka
dapat diambil kesimpulan bahwa motivasi berprestasi adalah suatu kebutuhan atau
dorongan yang timbul pada kondisi fisiologis dan psikologis seseorang baik
sadar maupun tidak sadar dalam melakukan sesuatu tindakan atau aktivitas
tertentu guna mencapai hasil karya positif yang bisa membuat bangga serta
bahagia atas pencapaian tersebut.
Mengacu pada uraian diatas, maka
motivasi berprestasi merupakan suatu kebutuhan dasar manusia untuk berprestasi
yang mendorong untuk melakukan aktivitas tertentu guna mencapai standar prestasi setinggi mungkin atau
seperti yang diinginkan.
Karakteristik Individu Yang Memiliki Motivasi Berprestasi Tinggi
Djaali (2009), menyimpulkan individu
yang memiliki motivasi berprestasi tinggi mempunyai karakteristik sebagai
berikut :
1.
Menyukai situasi atau tugas yang
menuntut tanggung jawab pribadi atas hasilnya dan bukan atas dasar
untung-untungan, nasib, atau kebetulan.
2.
Memilih tujuan yang realistis
tetapi menantang dari tujuan yang terlalu mudah dicapai atau terlalu besar
resikonya.
3.
Mencari situasi atau pekerjaan
dimana ia memperoleh umpan balik dengan segera dan nyata untuk menentukan baik
atau tidaknya hasil pekerjaannya.
4.
Senang bekerja sendiri dan
bersaing untuk mengungguli orang lain.
5.
Menangguhkan pemuasan keinginan
demi masa depan yang lebih baik.
6.
Tidak tergugah untuk sekedar
mendapatkan keuntungan, ia akan mencari bila hal tersebut merupakan lambang
keberhasilan.
Mahasiswa yang Aktif di UKM
Berdasarkan AD-ART UKM dayung Seguni UHT Surabaya, bab V pasal 11
tentang keanggotaan
yang menyatakan bahwa “Keanggotaan UKM dayung Seguni UHT terdiri dari mahasiswa
UHT yang telah mengikuti prosedur penerimaan keanggotaan yang telah ditetapkan
dan telah tercatat dalam kesekretariatan UKM serta berminat dan berkeinginan
mendukung, mengikuti, menjalankan, dan melaporkan setiap kegiatan yang diadakan
oleh UKM Dayung Seguni UHT ”.
Mengacu pada uraian diatas, maka
dalam penelitian ini dapat diambil kesimpulan bahwa mahasiswa yang aktif di UKM
adalah mahasiswa yang terdaftar aktif
pada kesekretariatan UKM dan/atau mendukung, mengikuti, menjalankan, dan
melaporkan setiap kegiatan yang diselenggarakan oleh UKM. Pengertian tersebut
dapat dibatasi pada mahasiswa yang menjadi pengurus UKM dan anggota UKM yang
aktif dalam setiap kegiatan yang diadakan oleh UKM.
Hubungan antara motivasi berprestasi dengan
prokrastinasi akademik pada mahasiswa yang aktif di UKM
Sentosa (dalam Ahmaini, 2010),
berpendapat bahwa kehidupan kampus selalu diwarnai dengan berbagai pandangan
mengenai berbagai kegiatan yang diambil dan dijalankan oleh mahasiswa. Selain
kegiatan akademik, kegiatan non akademik juga menjadi bagian yang tidak
terpisahkan dalam keseharian mahasiswa. Orientasi perkuliahan dan kegiatan
organisasi kemudian menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam aktivitas
perkuliahan karena mahasiswa tidak hanya fokus pada perkuliahan akademik,
aktivitas UKM menjadi sebuah perhatian yang tidak kalah pentingnya.
Aktivitas UKM merupakan aktivitas
mahasiswa diluar dari kegiatan akademis mahasiswa. UKM di UHT Surabaya meiliki
jenis kegiatan yang beragam terdiri dari kegiatan olahraga, kesenian, dan
kegiatan khusus yang terbagi menjadi 20 UKM. Mahasiswa yang memiliki orientasi
pada aktifitas UKM, tentu saja akan menambah jadwal kegiatan selain memenuhi
kewajiban akademik. Hal itu membuat fokus mahasiswa yang aktif di UKM menjadi
terbagi sehingga berpotensi melakukan penundaan tugas-tugas akademik. Fenomena
penundaan tugas dalam istilah psikologi disebut prokrastinasi. Selanjutnya,
prokrastinasi yang dilakukan pada tugas-tugas akademik disebut juga dengan prokrastinasi
akademik.
Ghufron
(2010), mengatakan prokrastinasi sebagai salah satu perilaku yang tidak efisien
dalam menggunakan waktu dan adanya kecenderungan untuk tidak segera memulai
suatu pekerjaan ketika menghadapi suatu tugas. Menurut
Knaus (dalam Ahmaini, 2010), prokrastinasi akademik dapat mempengaruhi
keberhasilan akademik dan pribadi mahasiswa. Apabila kebiasaan menunda ini
muncul terus-menerus pada mahasiswa, tentu akan memberikan dampak negatif dalam
kehidupan akademik. Hal tersebut, berdampak pada lamanya studi ataupun tidak
tercapainya prestasi akademik.
Menurut Ghufron (2010), prokrastinasi akademik dipengaruhi oleh
beberapa faktor. Biordy (dalam Ghufron,2010) mengemukakan bahwa salah satu
faktor internal yang mempengaruhi timbulnya perilaku prokrastinasi akademik
adalah motivasi. Terdapat beragam jenis motivasi dalam kajian psikologi, Uno
(2007) mengungkapkan motivasi yang digunakan individu dalam usaha untuk
menyelesaikan tugas tanpa menunda-nunda pekerjaannya adalah motivasi
berprestasi.
McMcleland (dalam Djaali, 2009),
mengungkapkan bahwa motivasi berprestasi merupakan motivasi yang berhubungan
dengan pencapaian beberapa standar kepandaian atau standar keunggulan.
Standar-standar tersebut akan mempengaruhi perilaku individu dalam usaha memperoleh
pencapaian keberhasilan. McClelland dan Atkinson, 1948 (dalam Wuryani, 2002)
menambahkan bahwa seseorang yang memiliki motivasi berprestasi akan cenderung
berjuang untuk mencapai sukses atau memilih suatu kegiatan yang berorientasi
untuk tujuan sukses.
|
|
![]() |
|||
Gambar 1. Kerangka Konseptual
Hubungan Antara
Motivasi Berprestasi Dengan Prokrastinasi Akademik Pada Mahasiswa Yang Aktif Di
UKM
Mengacu pada uraian diatas, dapat
diambil kesimpulan bahwa individu yang memiliki motivasi berprestasi yang
tinggi, maka akan berusaha untuk bisa mencapai keinginannya dengan selalu
berusaha untuk bisa mengerjakan tugas dengan cepat dan sebaik-baiknya tanpa
menunda-nunda tugas. Sedangkan individu yang memiliki motivasi berprestasi yang
rendah akan berpotensi melakukan prokrastinasi akademik. Berdasarkan hal tersebut, maka hipotesa dalam penelitian ini adalah ada hubungan negatif antara motivasi berprestasi dengan
prokrastinasi akademik pada mahasiswa yang aktif di UKM. Artinya semakin tinggi
prokrastinasi akademik, maka akan semakin rendah motivasi berprestasi.
Sebaliknya, semakin rendah prokrastinasi akademik maka akan semakin tinggi
motivasi berprestasi yang dimiliki mahasiswa.
Metode
Jenis Penelitian
Penelitian
ini menggunakan pendekatan kuantitatif tipe survei korelasional yaitu data penelitian
diperoleh dari sekelompok sampel pada satu populasi yang
diambil dengan menggunakan kuesioner untuk menguji hubungan antara dua variabel yaitu variabel X (motivasi berprestasi) dengan
variabel Y (prokrastinasi akademik).
Definisi Operasional
Motivasi berprestasi secara
operasional adalah suatu dorongan yang
terdapat dalam diri individu untuk mengerjakan tugas dengan sebaik-baiknya dan tepat pada waktunya
berdasarkan standar keunggulan yang
diungkap melalui skala penelitian dalam bentuk skor total dari enam indikator
yaitu; (1) Menyukai situasi atau tugas yang menuntut
tanggung jawab pribadi atas hasil-hasilnya dan bukan atas dasar
untung-untungan, nasib, atau kebetulan; (2) Memilih tujuan yang realistis tetapi
menantang dari tujuan yang terlalu mudah dicapai atau terlalu besar resikonya; (3) Mencari situasi atau
pekerjaan dimana ia memperoleh umpan balik dengan segera dan nyata untuk
menentukan baik atau tidaknya hasil pekerjaannya; (4) Senang bekerja sendiri dan bersaing untuk
mengungguli orang lain; (5) Mampu menangguhkan pemuasan keinginan demi masa depan yang lebih
baik; (6) Tidak
tergugah untuk sekedar mendapatkan uang, status, atau keuntungan lainnya, ia
akan mencarinya apabila hal-hal tersebut merupakan lambang prestasi, suatu
ukuran keberhasilan.
Sedangkan, prokrastinasi
akademik secara operasional adalah perilaku menunda-nunda
pada diri individu untuk memulai dan
menyelesaikan suatu tugas akademik yang diungkap melalui skala penelitian dalam
bentuk skor total dari empat indikator yaitu; (1) menyelesaikan suatu tugas
tidak sesuai batas waktu yang telah ditentukan; (2) sering mengalami
keterlambatan dalam menyelesaikan
tugas; (3) mengalami kesenjangan waktu antara rencana dengan kinerja dalam mengerjakan tugas; (4) lebih mementingkan
aktivitas yang lebih menyenangkan,
daripada harus mendahulukan tugas-tugas yang berkaitan
dengan tugas-tugas akademik.
Pengambilan Sampel
Populasi penelitian dalam penelitian ini adalah Mahasiswa UHT yang
terdaftar dalam kesekretariatan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM). Berdasarkan data
BAAK dan UKM di UHT, jumlah populasi dalam penelitian ini adalah 360 mahasiswa.
Selanjutnya, Pemilihan
anggota sampel menggunakan teknik Simple Random Sampling, artinya semua mahasiswa dalam populasi penelitian
memliki kesempatan yang sama untuk dijadikan sebagai sampel penelitian. Penentuan ukuran sampel dalam penelitian ini
mengacu pada tabel penentuan jumlah sampel yang dikembangkan oleh Isaac dan
Michael (dalam Sugiyono, 2008) dengan taraf kesalahan 5%. Berdasarkan populasi penelitian, maka sampel (n) yang akan digunakan dalam
penelitian ini adalah sebanyak
177 responden.
Pengumpulan Data
Pengumpulan data menggunakan skala
psikologi yang dirancang dengan menggunakan skala Likert yangsudah dimodifikasi. Skala yang digunakan meliputi; (1) skala
prokrastinasi akademik yang dirancang dengan mengacu pada ciri-ciri
prokrastinasi akademik dari Ferrari, dkk (1990, dalam Ghufron, 2010) dan telah
melalui proses uji validitas dan reliabilitas. Hasil uji menunjukan terdapat 29
aitem sahih yang memiliki koefisen reliabilitas 0,695. (2) skala motivasi
berprestasi yang dirancang dengan mengacu pada karakteristik individu yang
memiliki motivasi berprestasi tinggi (dalam Djaali, 2009) dan telah melalui
proses uji validitas dan reliabilitas. Hasil uji menunjukan terdapat 29 aitem
sahih yang memiliki koefisen reliabilitas 0,654. Uji validitas menggunakan uji
korelasi Product Moment, dan uji reliabilitas menggunakan teknik alpha cronbach.
Analisis Data
Analisis data dalam penelitian ini menggunakan analisis korelasi product moment yaitu menguji hubungan
antara motivasi berprestasi dengan prokrastinasi akademik. Kaidah yang
digunakan adalah bila p ≤
0,01 berarti signifikan; bila p ≥ 0,01 dan/atau p ≤ 0,05 berarti sangat
signifikan; dan kemudian, bila p ≥ 0,05 berarti
tidak signifikan. Analisis dilakukan dengan bantuan progam SPSS for windows versi 17.
Uji Prasyarat
Hasil uji normalitas pada skala prokrastinasi akademik diperoleh sig.
kolmogorov-smirnov sebesar 0,200
(p>0,1) yang menunjukan bentuk kurva normal pada
variabel prokrastinasi akademik. Sedangkan hasil uji linieritas hubungan diperoleh
nilai F-Deviation
from Linearity (0,901) > 0,5 yang menunjukan persamaan linieritas dari kedua variabel dan mempunyai korelasi
linier.
Hasil dan Pembahasan
Penelitian
ini dilakukan pada tanggal 10–11 Februari 2012 di UKM Universitas Hang Tuah, Jl. Arief Rahman
Hakim no 150, Surabaya. Hasil perhitungan
menunjukan nilai korelasi (rxy)
sebesar - 0,053 < (rtabel) 0,159 pada taraf signifikansi (p) = 0,483 > 0,05 dengan subyek 177 responden. Artinya bahwa,
motivasi berprestasi tidak memiliki hubungan dengan prokrastinasi akademik. Dengan kata lain, hipotesis
alternatif (Ha) yang diajukan tidak terbukti.
Hasil penelitian ini
kurang sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Ferrari dkk. (1999, dalam
Ghufron, 2010), bahwa besarnya motivasi yang dimiliki individu mempengaruhi prokrastinasi secara
negatif. Artinya, semakin tinggi motivasi intrinsik yang dimiliki individu
ketika menghadapi tugas, akan semakin rendah kecenderungan untuk prokrastinasi
akademik. Demikian juga, hasil penelitian ini berbeda dengan pendapat yang
dikemukakan oleh Uno (2007), bahwa faktor yang paling berperan dalam usaha
menyelesaikan tugas tanpa menunda-nunda pekerjaannya adalah motivasi
berprestasi.
Ditolaknya hipotetis mengartikan bahwa terdapat kelemahan dalam
penelitian yang dilakukan. Teori prokrastinasi akademik
yang mengacu pada Ferrari (1999), kurang menjelaskan indikator keperilakuan
yang sebagian bersifat ambigue dalam
membuat setiap aitem pada skala penelitian, misalnya indikator pertama
(penundaan untuk memulai dan menyelesaikan tugas) dirasa memiliki kesamaan
makna dengan indikator ketiga (kesenjangan waktu antara rencana dan kinerja
aktual). Selain itu, teori dari Ferrari (1999)
dikutip secara tidak langsung dari buku aslinya. Akan tetapi teori
tersebut dikutip dari tulisan Ghufron (2010). Hal ini memungkinkan mengandung
kelemahan karena teori tersebut tidak langsung diacu dari tokoh aslinya, namun
dikutip melalui buku yang ditulis oleh Ghufron (2010). Kutipan tersebut mungkin
mengandung kelemahan karena adanya perbedaan penafsiran dari tulisan aslinya.
Selanjutnya, kemungkinan
kelemahan penelitian ini dikarenakan tidak dikontrolnya variabel lain yang
secara konseptual berpotensi mengganggu hubungan antara variabel yang diteliti
dalam penelitian ini. Hal ini mengacu pada teori Ferrari (dalam Ghufron, 2010)
bahwa terdapat dua faktor utama yang mempengaruhi prokrastinasi akademik, yaitu
faktor internal dan faktor eksternal. Kedua faktor tersebut berkesinambungan
membentuk perilaku menunda pada individu. Faktor internal yaitu faktor-faktor
yang terdapat dalam diri individu yang meliputi : (1) Kondisi fisik individu dan kondisi
kesehatan individu, (2) Kondisi psikologis individu seperti trait (sifat) kepribadian individu.
Besarnya motivasi yang dimiliki seseorang juga akan mempengaruhi prokrastinasi
secara negatif. Kemudian Faktor eksternal, yaitu faktor-faktor yang terdapat di
luar diri individu yang meliputi ; (1) Gaya pengasuhan orangtua, (2) Lingkungan
tempat tinggal, dan (3) kondisi lingkungan sekolah.
Penulis dalam
penelitian ini hanya menguji satu variabel, yang mana variabel tersebut adalah
berupa faktor internal yaitu motivasi berprestasi tanpa melakukan kontrol
terhadap faktor internal lainnya dan faktor eksternal yang mungkin lebih
dominan dalam membentuk hubungan dengan prokrastinasi akademik. Hal ini dapat
dilihat dari nilai R2 yang menunjukan bahwa sumbangan motivasi
berprestasi terhadap prokrastinasi akademik hanya sebesar 0,02%, sedangkan
99,8% berhubungan dengan variabel lain.
Kelemahan lain dalam
penelitian ini juga terkait dengan karakteristik sampel penelitian, terutama
berkaitan dengan angkatan mahasiswa. Berdasarkan data deskriptif, dari
keseluruhan sampel yang digunakan terdapat 21 atau 11,86% mahasiswa agkatan
2008, 42 atau 23,73% angkatan 2009, 58 atau 32,77% angkatan 2010, dan 56 atau
31,64% angkatan 2011. Hasil tersebut menunjukan bahwa 64,41% adalah mahasiswa
agkatan 2010-2011 yang merupakan mahasiswa semester awal dalam perkuliahan.
Secara umum, mahasiswa semester awal memiliki tugas yang jauh lebih sedikit dan
mudah dikerjakan, daripada mahasiswa semester akhir. Hal ini dimungkinkan turut
mempengaruhi perilaku individu dalam mengerjakan tugas dengan menghindari
penundaan pengerjaan tugas-tugas akademik.
Lebih lanjut, berkaitan
dengan peran dan fungsi sebagai mahasiswa dalam melaksanakan kegiatan akademis
dan non akademis juga dimungkinkan berpengaruh terhadap perilaku prokrastinasi
akademik. Hal tersebut diartikan bahwa semakin senior mahasiswa, peran dan
fungsi dalam kegiatan akademis dan non akademis semakin kompleks. Semakin
tinggi tingkatan angkatan mahasiswa, semakin tinggi pula tingkat kesulitan
tugas. misalnya; tugas kuliah yang dalam pengerjaannya membutuhkan kemampuan
daya analisis (studi kasus). Disisi lain, mahasiswa senior juga memiliki peran
dan fungsi yang lebih vital di UKM, misalnya; menjadi pengurus inti UKM.
Terkait dengan sampel penelitian, mahasiswa yang menjadi sampel penelitian
adalah mahasiswa semester awal yang masih belum memiliki peran dan fungsi yang
lebih vital di UKM.
Hal lain yang juga
terkait dengan pemilihan karakteristik sampel penelitian adalah berkaitan
dengan jurusan dan fakulas dari mahasiswa yang dijadikan sebagai sampel
penelitian. Berdasarkan data deskriptif, dari keseluruhan sampel yang digunakan
terdapat 61 atau 34,46% mahasiswa FTIK (Fakultas Teknik dan Ilmu Kelautan), 27
atau 15,26% mahasiswa FISIP (Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik), 33 atau
18,65% mahasiswa Fpsi (Fakultas Psikologi), 29 atau 16,38% mahasiswa FH
(Fakultas Hukum), 15 atau 8,47% mahasiswa FKU (Fakultas Kedokteran Umum), dan
12 atau 6,78% mahasiswa FKG (Fakultas Kedokteran Gigi). Hasil tersebut
menunjukan bahwa 50,29% adalah mahasiswa dari jurusan ilmu sosial yaitu, FISIP,
Fpsi, dan FH yang dimungkinkan memiliki kontrol lebih untuk menghindari
prokrastinasi akademik. Hal ini dimungkinkan karena tugas-tugas akademis pada
ilmu sosial memiliki tingkat kesulitan di bawah ilmu sains, misalnya tugas
rancang pada Ilmu Teknik memiliki tingkat kesulitan yang lebih tinggi jika
dibandingkan dengan tugas mengarang pada ilmu sosial.
Selanjutnya, meski
memiliki kesamaan karakteristik yaitu aktif di UKM, namun sampel penelitian
berasal dari beragam fakultas dan jurusan progam studi yang memiliki kewajiban
akademik yang berbeda. Keragaman kewajiban akademik merupakan bagian dari
bidang ilmu yang ada di setiap fakultas dan jurusan di Universitas Hang Tuah
Surabaya. Hal tersebut berhubungan dengan cara mahasiswa dalam menyelesaikan
kewajiban akademik sehingga turut serta mempengaruhi prokrastinasi akademik
pada mahasiswa. Kurangnya kontrol terhadap kewajiban akademik pada setiap
fakultas dan jurusan pada mahasiswa yang aktif di UKM dimungkinkan mempengaruhi
hasil penelitian sehingga hipotesa yang diajukan tidak terbukti.
Disisi lain, keikut
sertaan mahasiswa dalam kegiatan UKM dirasa turut memberikan pengaruh pada
individu dalam menyelesaikan tugas-tugas akademik. Walaupun dalam penelitian
Ahmaini (2010) menunjukan bahwa mahasiswa yang ikut dalam kegiatan
kemahasiswaan memiliki prokraastinasi akademik tinggi, namun dalam penelitian
ini tidak menunjukan bahwa mahasiswa UHT yang aktif di UKM memiliki
prokrastinasi akademik tinggi. Hal ini, dikarenakan mahasiswa UHT lebih
memiliki motivasi berprestasi tinggi yang kemudian dijadikan sebagai kontrol
terhadap perilaku prokrastinasi akademik. Artinya, mahasiswa yang aktif di UKM semakin
termotivasi mengerjakan tugas-tugas akademik dikarenakan keaktifan pada
kegiatan UKM.
Hal lain yang berkaitan
dengan pengambilan sampel adalah penulis tidak bertatap muka secara langsung
dengan responden sehingga responden terkesan asal-asalan dalam menjawab setiap
aitem dalam skala penelitian. Penulis juga kurang memberikan persuasif dalam menyampaikan maksud dan
tujuan penelitian ini, sehingga responden kurang kooperatif dalam membantu pelaksanaan penelitian.
Jawaban yang diberikan
responden terkesan asal-asalan yang dimungkinkan karena responden kurang
memahami makna dan tujuan skala penelitian yang disuguhkan. Hal ini terlihat
dari hasil jawaban subyek yang kurang variatif
atau hanya berkisar pada nilai yang sama pada satu responden, misal jawaban favorabel yang setuju sehingga hanya
menghasilkan nilai masing-masing 3, dan unfavorabel
yang tidak setuju sehingga hanya menghasilkan nilai masing-masing 2 dalam
skala. Responden dirasa kurang memberikan jawaban sesuai dengan kondisi yang
dialami. Hal itu dimungkinkan turut mendukung tidak terbuktinya hipotesis yang
diajukan.
Pembuatan instrument
penelitian yang digunakan dalam penyusunan skala juga mempengaruhi kelemahan
dalam penelitian ini. Teknik penyebaran aitem pada satu skala penelitian dirasa
kurang variatif, yaitu nomer ganjil untuk favorabel
dan nomer genap untuk unfavorabel.
Hal itu memungkinkan subyek merasa bosan sehingga subyek dalam mengisi skala
penelitian kurang begitu serius. Harusnya, penyebaran aitem pada satu skala
penelitian bervariasi untuk menghindari kejenuhan subyek dalam mengisi skala
penelitian. Hal tersebut dirasa mempengaruhi subyek dalam memberikan jawaban
pada setiap pernyataan/aitem yang disajikan.
Hal lain yang berkaitan dengan pembuatan
instrument penelitian adalah aitem-aitem yang disajikan dalam skala penelitian.
Sebelumnya, telah ditemukan skala prokrastinasi yang dikembangkan oleh Tuckman dan Sexton (1990) dengan memliki
ciri-ciri sebagai berikut: (1) Deskripsi diri dari kecenderungan menunda melakukan suatu tugas. Misalnya,
menunggu sampai batas waktu terakhir,
(2) Kecenderungan untuk mengalami kesulitan melakukan
hal-hal tidak menyenangkan atau menghindari ketidaknyamanan. Misalnya, mencari
celah atau
jalan pintas untuk tidak mengerjakan tugas berat, dan (3) Kecenderungan untuk menyalahkan orang
lain atas penderitaan sendiri. Misalnya, mencari kesalahan orang lain atas
tugas yang harus dilakukan (Tuckman dan Sexton, 1990).
Akan tetapi, Skala
prokrastinasi akademik dalam penelitian ini dibuat oleh penulis sendiri dengan
mengacu pada indikator dari pendapat Ferrari dkk (1999, dalam Ghufron, 2010)
dengan pertimbangan karena skala yang dikembangkan oleh
Tuckman dan Sexton (1990) hanya mengarah pada
prokrastinasi, bukan prokrastinasi akademik. Walaupun tingkat validitas yang
digunakan adalah validitas isi dengan dinilai oleh penilai ahli (dosen
pembimbing) dan aitem-aitem tersebut dinyatakan valid oleh perhitungan SPSS,
namun hal tersebut dimungkinkan mempengaruhi tidak terbuktinya hipotetis yang
diajukan karena skala prokrastinasi telah dikembangkan oleh Tuckman dan Sexton (1990) tidak dipertimbangkan
dalam penelitian ini.
Selain itu, segi yang tidak boleh
diabaikan dalam pengembangan skala psikologi adalah masalah penampilan fisik
skala yang akan diisi responden. Tampilan skala yang menarik akan membangkitkan
minat responden untuk menyikapi skala secara tepat dan cermat, sehingga akan mencerminkan
keseriusan responden dalam mengisi
skala (Azwar, 2007).
Meninjau tampilan fisik skala yang dibuat
oleh peneliti, kemungkinan tampilannya kurang menarik sehingga responden kurang serius
dalam mengisinya. Asumsi peneliti atas tampilan skala yang kurang menarik
meliputi; (1) jenis kertas yang digunakan adalah kertas buram warna coklat muda
sehingga terlihat kurang menarik dipandang, hal ini memungkinkan subyek penelitian merasa kurang tertarik dan kurang
serius untuk mengisi skala penelitian sesuai dengan apa yang dialami. (2) terlalu banyak intruksi yang diberikan oleh peneliti, intruksi
tersebut berupa intruksi awal yang berisi tata cara pengisian skala penelitian
dan sebagainya. Selain intruksi awal terdapat juga intruksi yang dibubuhkan
pada setiap lembar skala, misalnya keterangan SS, S, ST, STS dan ucapan terima
kasih. Hal ini dipandang akan membuat responden bosan membaca tiap intruksi, sehingga subyek tidak mengisi sesuai dengan apa
yang dialami. Hal tersebut dapat dimungkinkan sebagai pendukung tidak terbuktinya
hipotesa yang diajukan.
Berdasarkan pembahasan diatas, maka
dapat diambil pemahaman bahwa tidak terbuktinya hipotetis yang diajukan
dikarenakan adanya kelemahan dalam penelitan. Kelemahan tersebut adalah sebagai
berikut;
1.
Kelemahan landasan teori,
2.
Terdapat variabel lain yang
mungkin lebih dominan dalam mempengaruhi variabel penelitian,
3.
Kelemahan dalam memilih
karakteristik sampel,
4.
Kelemahan dalam merancang
instrumen penelitian.
Walaupun dari hasil
penelitian tidak menemukan adanya hubungan antara motivasi berprestasi dengan
prokrastinasi akademik, namun berdasarkan hasil uji rerata variabel dapat
diartikan bahwa responden memiliki motivasi berprestasi tinggi dan
prokrastinasi akademik rendah. Hal tersebut dapat disimpulkan bahwa mahasiswa
UHT yang aktif UKM memiliki motivasi berprestasi tinggi. Mahasiswa tersebut
dapat digolongkan dalam karakteristik individu yang memiliki motivasi
berprestasi dan memiliki prokrastinasi akademik yang rendah. Kondisi tersebut dapat
dipertahankan untuk mencapai keberhasilan akademik sesuai dengan apa yang
diinginkan.
Kesimpulan dan Saran
Berdasarkan perhitungan analisis
data pada populasi penelitian dapat diambil kesimpulan bahwa tidak ada
hubungan antara motivasi berprestasi dengan prokrastinasi akademik pada
mahasiswa Universitas Hang Tuah Surabaya yang aktif UKM. Analisis data juga menunjukan bahwa mahasiswa
Universitas Hang Tuah Surabaya yang aktif di UKM memiliki motivasi berprestasi
tinggi dan prokrastinasi akademik yang rendah.
Adapun saran yang dapat diajukan adalah sebagai
berikut;
1.
Mahasiswa Universitas Hang Tuah
yang aktif UKM diharapkan mengutamakan skala prioritas pada kegiatan yang dipandang paling
penting untuk diselesaikan terlebih dahulu, terutama kegiatan akademis.
2.
Universitas Hang Tuah
disarankan tetap mempertahankan kondisi
yang ada dengan cara semakin banyak memberikan
penghargaan (reward) kepada mahasiswa
yang berprestasi dibidang akademis dan non akademis. Selain itu, perlu memberikan tindakan
tegas jika terlambat mengerjakan tugas dan menetapkan batas
maksimal studi.
3.
Bagi yang tertarik untuk menindak lanjuti penelitian ini disarankan
untuk mengontrol variabel lain yang dimungkinkan
lebih dominan mempengaruhi prokrastinasi akademik,
seperti gaya pengasuhan, lingkungan, kondisi fisik dan psikis individu, dan
kepribadian dengan mencari berbagai literatur yang terpercaya. Selain itu, perlu
memperhatikan karakteristik populasi yang
akan dijadikan sebagai sampel penelitian.
Daftar Pustaka
Ahmaini, D. 2010. Perbedaan Prokrastinasi Akademik Antara Mahasiswa yang Aktif dengan
Mahasiswa yang tidak Aktif dalam Unit Kegiatan Kemahasiswaan PEMA USU.
Skripsi (tidak diterbitkan). Sumatera : Fakultas Psikologi Universitas Sumatera
Utara. On-line (diunduh pada tanggal 30 Mei 2011 pukul 14:19).
Ashari, & Santoso, B. Purbayu. 2005. Analisis Statistik Dengan Microsoft Exel
& SPSS. Yogyakarta : Penerbit Andi.
Azwar, S. 2003. Metode
Penelitian edisi 1. Yogyakarta : Pustaka Pelajar
2007. Penyusunan Skala
Psikologi. Yogyakarta : Pustaka Pelajar
Bungin, Burhan. 2005. Metodologi Penelitian Kuantitatif komunikasi, ekonomi, dan kebijakan
public serta ilmu-ilmu sosial lainya. Jakarta: Kencana Prenada Media Group
Burhan Nurgiyantoro,
Gunawan, Marzuki. (2004). Statistik
Terapan Untuk Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial. Cet. Ketiga. Yogyakarta: Gadjah
Mada University Press.
Bruce, W. Tuckman. (1990). Mengukur Penundaan Attitudinally dan Perilaku. Laporan penelitian
(tidak diterbitkan). Amerika Asosiasi Riset Pendidikan. On-line (diunduh pada
tanggal 30 Mei 2011 pukul 14:19).
Djaali. 2009. Psikologi
Pendidikan. Jakarta : Bumi Aksara
Ghufron, 2010. Teori-Teori
Psikologi. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media
Hadi, S. 2004. Seri
Program Statistik, manual. Yogyakarta : Fakultas Psikologi Universitas
Gajah Mada
http://www.wikipedia.com (diunduh
tanggal 27 Oktober 2011 jam 11.55)
http://www.mikroskil.ac.id/mhs_ukm.php
(diunduh tanggal 07 Maret 2011 jam 10.20)
KEPMENDIKNAS Nomor 232 Tahun 2000. Pedoman Penyusunan Kurikulum Pendidikan
Tinggi dan Penilaian Hasil Belajar. Jakarta: Djambatan IKAPI
|
Mada, D. P. (2010, Januari-Maret). Akademi,
Akademik, dan Akademis. Hang Tuah Post, 36,
21.
Mastuti, E. (2009). Memahami Perilaku Prokrastinasi
Akademik Berdasar Tingkat Self Regulation Learning. Jurnal Psikologi Indonesia, 6, 55-61.
Salim, S. Evita & Sukadji, S. 2006. Sukses Belajar di Perguruan Tinggi. Yogyakarta
: Percetakan Jalasutra
Singarimbun & Efendi. 2008. Metode Penelitian Survai. Jakarta : LP3S
Sugiyono. 2008. Metode
Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R & D. Bandung: penerbit Alfabeta
Suryabrata, S. 2009. Metodologi Penelitian. Jakarta: Raja Grafindo Persada
UHT, Seguni. 2002. Pedoman AD-ART UKM Dayung Seguni Universitas Hang Tuah. (tidak
diterbitkan. Surabaya : UKM Dayung Seguni UHT).
UHT, BAAK. 2007. Buku
Pedoman Akademik dan Kemahasiswaan. Surabaya
: Universitas Hang Tuah Surabaya
UHT, BAAK. 2007. Buku
Wisuda XXXIII Graha Samudera Ganesha. Surabaya : Universitas Hang Tuah
Surabaya
Uno, B. Hamzah. 2008. Teori Motivasi & Pengukurannya Analisis di bidang Pendidikan.
Jakarta : PT. Bumi Aksara
Uyanto, S. Stanislaus. 2006. Pedoman analisis data dengan SPSS. Yogyakarta : Graha Ilmu
Widhiarso, W. 2010. Uji Linieritas Hubungan. Manuskrip (tidak diterbitkan). Yogyakarta :
Fakultas Psikologi Universitas Gajah Mada.
Widoyoko, E. Putro. 2012. Teknik Penyusunan Instrumen Penelitian. Yogyakarta: Pustaka Belajar
Wuryani, E. 2002. Psikologi Pendidikan. Jakarta : PT. Gramedia Widiasarana Indonesia.
